Rabu, Februari 03, 2010

PEMBELAJARAN TERINTEGRASI

PEMBELAJARAN TERINTEGRASI:
MENJADIKAN PENDIDIKAN MATEMATIKA LEBIH BERMAKNA
Oleh: Sumaryanta
Abstrak
Pembelajaran terintergasi adalah
pembelajaran yang dalam prosesnya mengintegrasikan berbagai aspek lain di luar materi bidang studi yang diajarkan secara simultan dan berkelanjutan. Pembelajaran terintegrasi selaras dengan kebijakan pendidikan saat ini, antara lain UU No. 20 Th. 2003, Permendiknas No. 22 dan 23 Th. 2006, serta standar nasional pendidikan, yang mengamanatkan pengintegrasian berbagai aspek dalam setiap pembelajaran, termasuk mata pelajaran matematika. Implementasi pembelajaran terintegrasi diharapkan merubah pendidikan matematika yang selama ini “kering” dan “miskin” menjadi lebih bermakna. Pembelajaran matematika yang hanya berorientasi penguasaan materi matematika secara an sich, perlu diarahkan pada pencapaian esensi pembelajaran yaitu keutuhan pengembangan pribadi peserta didik. Potensialitas pembelajaran matematika harus lebih digali dan diberdayakan melalui integrasi berbagai aspek, antara lain: soft skills, life skills, religiusitas, moralitas, kepribadian, dan pendidikan berwawasan lokal-global.

Kata kunci: pembelajaran terintegrasi, pendidikan matematika, bermakna

A. Pendahluan
1. Latar Belakang
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,mandiri, dan menjadi warga negara demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3 UU No 20 Tahun 2003). Hal tersebut menunjukkan betapa tinggi harapan yang disandarkan pada bidang pendidikan. Kritik terhadap kualitas SDM saat ini seakan menjadi cermin retak pendidikan yang dianggap gagal menunaikan tugas dan tanggung jawabnya.
Kebutuhan mendukung tumbuh-kembang anak secara utuh berimplikasi perlunya penyelanggaraan pendidikan holistik dan berkesinambungan. Paradigma “keutuhan” harus menjadi ruh dasar sistem dan praktek pendidikan. Berbagai dimensi tumbuh kembang anak, baik intelektual, emosional, sosialitas, maupun moralitas, harus difasilitasi agar berkembang optimal. Hanya sistem pendidikan yang mampu mengintegrasikan pengembangan berbagai aspek tersebut yang akan mampu mendorong tumbuh kembang anak secara utuh.
Permasalahan di atas menuntut solusi hati-hati dan kreatif. Tuntutan bahwa pendidikan harus mendorong tumbuh kembang anak secara utuh tidak harus disikapi latah dengan me”mata-pelajaran”kan semua aspek kehidupan. Mata pelajaran pada kurikulum saat ini telah dirasakan “sangat banyak”, sehingga perlu cara-cara baru menjawab kebutuhan tumbuh kembang anak secara utuh tanpa menambah beban belajar anak. Mata pelajaran yang ada bisa lebih diberdayakan agar memberi kontribusi lebih besar, tidak hanya pada domain masing-masing bidang studi, tetapi lebih terbuka difungsikan mendukung tumbuh kembang anak.
Mata pelajaran matematika, sebagai mata pelajaran pokok di sekolah, harus mampu menjawab tantangan di atas. Pembelajaran matematika harus lebih diberdayakan untuk mendukung pengembangan pribadi anak. Pembelajaran matematika seharusnya tidak diorientasikan sekedar materi matematika secara an sich, tetapi perlu dirubah lebih terbuka menyentuh dimensi lebih luas sehingga mampu berkontribusi lebih besar. Salah satu strategi altenatif yang penulis ingin tawarkan sebagai solusi melalui makalah ini adalah PEMBELAJARAN TERINTEGRASI. Implementasi pembelajaran terintegrasi diharapkan dapat menjadikan pendidikan matematika menjadi lebih bermakna.
2. Rumusan Masalah
Bagaimana konsep dasar pembelajaran terintegrasi serta implementasinya dalam pendidikan matematika?
3. Tujuan dan Manfaat
Tujuan makalah ini adalah:
a. Memaparkan konsep dasar pendidikan terintegrasi serta aspek-aspek yang dapat diintegrasikan dalam pendidkan matematika
b. Memaparkan strategi implementasi pembelajaran terintegrasi dalam pendidikan matematika
Manfaat makalah ini adalah:
a. Dapat mengenalkan pembelajaran terintegrasi dan aplikasinya dalam pendidikan matematika kepada praktisi dan penggiat pendidikan matematika
b. Dapat menumbuhkembangkan kesadaran dan pandangan positif praktisi dan penggiat pendidikan matematika tentang pendidikan terintegrasi serta tantangan implementasinya agar pendidikan matematika lebih bermakna.
B. Konsep Dasar Pembelajaran Matematika Terintegrasi
Terminologi pembelajaran terintegrasi sebenarnya sudah banyak dibahas dan diimplementasikan. Namun pemaknaan atas pembelajaran terintegrasi sampai saat ini masih beragam. Pemaknaan paling umum pembelajaran terintegrasi adalah pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai disiplin dalam suatu paket pembelajaran. Berbagai aspek serumpun dibelajarkan dalam satu kesatuan sehingga diharapkan diterima dan dipahami peserta didik dalam keutuhan. Berbeda dengan konsep tersebut, pembelajaran terintegrasi disini adalah pembelajaran yang dalam prosesnya mengintegrasikan berbagai aspek lain di luar materi bidang studi yang diajarkan secara simultan dan berkelanjutan sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Dengan demikian, pembelajaran matematika terintegrasi dapat diartikan sebagai pembelajaran matematika yang dalam prosesnya tidak sekedar membelajarkan materi matematika, melainkan diperluas dengan mengasupkan berbagai aspek lain yang relevan dan diperlukan dalam mendukung pengembangan pribadi anak secara utuh.
Selama ini keberhasilan belajar matematika lebih ditekankan pada kemampuan menguasai materi dan meraih nilai tinggi. Hal ini menyebabkan pembelajaran sering terjebak pada pengajaran material matematika an sich, sehingga mengesampingkan berbagai aspek perkembangan anak. Nilai digunakan sebagai rujukan utama mempersepsikan tingkat keberhasilan. Orang tua sedih jika nilai matematika putra/putrinya rendah. Berbagai upaya dipaksakan kepada anak demi meningkatkan nilai. Anak, dengan segala ketidakberdayaan, akhirnya pasrah dan mengikuti kehendak orang tua. Di sekolah fenomena sama juga sering terjadi. Sekolah mempersepsikan keberhasilan belajar matematika berdasar nilai siswa. Untuk meningkatkan prestasi, sekolah menempuh berbagai upaya untuk semakin me-''ninggi"-kan nilai siswa.
Mata pelajaran matematika diajarkan sejak pendidikan dasar sampai pendidikan lanjut tidak lepas dari kesadaran bahwa matematika memiliki potensi besar mendukung pengembangan pribadi anak. Arti penting ini telah diterima secara nyata hampir semua pihak, bahkan matematika menempati posisi vital dalam kurikulum. Secara kuantitas, alokasi waktu pelajaran matematika setiap jenjang selalu cukup besar. Ruang yang tersedia ini tidak seharusnya cuma untuk mengejar nilai semata tetapi harus dapat lebih dimanfaatkan untuk menggali dan memberdayakan potensi pelajaran matematika dalam memberikan manfaat bagi anak. Dalam konteks inilah implementasi pembelajaran terintegrasi dalam mata pelajaran matematika menjadi relevan dan urgen.
Pada pembelajaran matematika terintegrasi, aspek yang mungkin bisa diintegrasikan sangat beragam. Berbagai aspek yang perlu untuk mendorong perkembangan anak menjadi pribadi yang utuh dapat diintegrasikan, antara lain: life skills, soft skills, religiusitas, moralitas, kepribadian, pendidikan berwawasan lokal-global, dan lain-lain (Sumaryanta, 2009). Aspek yang diintegrasikan dalam pembelajaran bergantung pandangan filosofis guru tentang pendidikan serta pemahaman terhadap potensialitas pelajaran matematika dalam mendukung pengembangan pribadi anak. Guru yang memiliki kepedulian pada pengembangan aspek life skills dapat mengasupkan pembelajaran aspek life skills selama mengajar matematika. Guru matematika yang ingin menjadikan pelajaran matematika sebagai media syiar keagamaan dapat mengintegrasikan aspek religiusitas. Begitu pula guru matematika yang memiliki ketertarikan dan kepeduliah aspek soft skills, moralitas, kepribadian, dan yang lain.

C. Aspek terintegrasi merupakan amanat pendidikan sekaligus katalisator proses pembelajaran
Permendiknas No 22 tahun 2006 tentang standar isi mengamanatkan integrasi berbagai aspek dalam peembelajaran. Pengembangan kurikulum dituntut menegakkan lima pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Hal ini berarti keutuhan pengembangan pribadi anak adalah esensial dalam setiap pembelajaran, termasuk pada mata pelajaran matematika.
Permendiknas No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Kelulusan (SKL) juga menyuratkan kebutuhan implementasi pembelajaran terintegrasi. Salah satunya dapat dicermati pada SKL Kelompok Mata Pelajaran Agama dan Akhlak Mulia yang bertujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Tujuan tersebut diharapkan dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olahraga, dan kesehatan. Dengan demikian, pembelajaran matematika sebagai bagian dari muatan ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya dapat mendukung pencapaian tujuan tersebut.
Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang standar penilaian menyatakan bahwa pada akhir semester setiap guru bidang studi harus melaporkan hasil penilaian akhlak pada guru Pendidikan Agama dan hasil penilaian kepribadian pada guru Pendidikan Kewarganegaraan sebagai informasi untuk menentukan nilai akhlak dan kepribadian siswa pada akhir semester. Kewajiban ini tentu tidak sebatas menentukan nilai, tetapi guru harus mendorong pengembangan akhlak dan kepribadian siswa. Menilai tanpa berkontribusi mengembangkannya tentu menjadi ketidakadilan bagi siswa. Implikasinya, setiap guru matematika mendapat amanat berkontribusi dalam mengembangkan aspek akhlak dan kepribadian siswa.
Pendidikan kecakapan hidup dan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global merupakan bagian muatan kurikulum sekolah (BSNP, 2006). Kurikulum diharapkan memasukkan pendidikan kecakapan hidup, yang mencakup kecakapan pribadi, sosial, akademik dan/atau kecakapan vokasional. Kurikulum juga diharapkan memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal-global, yaitu pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi, budaya, bahasa, TIK, ekologi, dll. Pendidikan kecakapan hidup dan pendidikan berbasis keunggulan lokal-global ini dapat menjadi bagian dari pendidikan semua mata pelajaran. Hal ini berarti semua mata pelajaran, termasuk matematika, perlu menyediakan ruang bagi pengembangan kedua aspek tersebut.
Pengembangan aspek terintegrasi merupakan sasaran sekaligus pendukung pembelajaran. Guru dapat mengasupkan aspek terintegrasi dalam pembelajaran kompetensi yang harus dikuasai siswa. Hal ini berarti pengembangan aspek terintegrasi merupakan sasaran yang sengaja ditargetkan dalam pembelajaran. Selama ini mungkin telah ada upaya pengembangan aspek terintergasi, tetapi sering hanya sebagai efek samping yang diharapkan tercapai. Hal ini tentu berbeda jika pengembangan aspek terintergasi tersebut dilaksanakan secara sengaja dan terencana.
Pembelajaran terintegrasi mungkin dikhawatirkan menambah beban pembelajaran. Seperti ketika seseorang telah kerepotan membawa sejumlah barang, mungkin orang bertanya bagaimana bisa masih akan ditambah barang bawaan baru. Setiap tambahan material pasti akan menambah berat beban orang tersebut. Tetapi, jika material baru tersebut berupa segelas minuman atau sepiring makanan, tentu material baru tersebut tidak akan menambah berat beban. Orang tersebut dapat menerima tambahan material baru tersebut dengan meminum atau memakannya. Minuman dan makanan tidak akan dirasakan sebagai beban tambahan, tetapi justru akan menjadi energi baru dalam membawa barang yang sebelumnya terasa berat. Seperti analogi tersebut, pengembangan aspek terintergasi tidak perlu dikhawatirkan berlebihan menjadi beban tambahan karena justru akan memberikan keuntungan terhadap pembelajaran itu sendiri. Walaupun tidak sama persis, tetapi analogi di atas dapat menjelaskan bagaimana aspek-aspek terintegrasi dapat dipahami dan ditempatkan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian aspek terintegrasi merupakan katalisator proses pembelajaran.

D. Mengasupkan aspek terintegrasi dalam pembelajaran
1. Kemauan dan kemampuan guru
Komitmen dan kemauan guru dalam mengembangkan aspek terintegrasi dalam pembelajaran sangat penting (Sumaryanta dan Pratini, H.S., 2008). Komitmen guru akan menjadi pengarah sekaligus sumber energi dalam mewujudkan sasaran yang diinginkan. Beban mengajar serta segala kompleksitas masalahnya dapat mengesampingkan niat mengembangkan aspek terintegrasi. Tanpa kemauan kuat sangat mungkin guru akan kembali terjebak pada pembelajaran yang hanya mengejar materi dan nilai semata.
Pengembangan aspek terintegrasi juga mensyaratkan kemampuan guru. Mengasupkan aspek terintegrasi dalam pembelajaran menuntut kreativitas guru dalam mengelola kelas. Guru perlu memiliki pemahaman dan kemampuan menerapkan berbagai model, teknik, metode, pendekatan dan strategi mengajar agar dapat mengemas kelas lebih baik. Ramuan pembelajaran dengan mengoptimalkan berbagai metodologi pembelajaran tersebut sangat menentukan seberapa jauh pengembangan aspek terintegrasi dapat berhasil. Tidak ada lilin padam menerangi lingkungan, tidak pula ada orang buta menjadi penunjuk jalan. Hanya guru kompeten yang dapat mengembangkan aspek terintegrasi dalam pembelajaran.
2. Penetapan tujuan
Salah satu langkah awal penting keberhasilan pembelajaran adalah pemilihan tujuan pembelajaran (Mercer, 1989). Tujuan akan menjadi pengarah selama pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, pengembangan aspek terinterasi dalam pembelajaran akan terwujud jika aspek ini memang ingin dikembangkan. Guru harus mulai dengan memahami bahwa pengembangan aspek terintegrasi ini penting bagi siswa dan bisa dilaksanakan dalam pembelajaran.
Tujuan guru mengembangkan aspek terintegrasi perlu dikomunikasikan pada siswa. Kesepahaman guru dan siswa sangat penting bagi ketercapaian tujuan pembelajaran (DePorter, B., 2000). Siswa memerlukan gambaran jelas tujuan pembelajaran dan apa yang dapat mereka lakukan dan mereka peroleh. Mengetahui tujuan dan kegunaan yang dipelajari akan membawa siswa lebih aktif dan bersemangat. Oleh karena itu, jika guru memang berkehendak mengembangkan aspek terintegrasi, guru harus mengkomunikasikan tujuan tersebut sehingga siswa memiliki arah yang sejajar dengan guru selama pembelajaran berlangsung.
3. Perencanaan pembelajaran
Persiapan atau perencanaan pembelajaran merupakan salah satu aspek penting agar pembelajaran berhasil (Burden & Byrd, 1999). Keberhasilan pengembangan aspek terintegrasi sangat ditentukan ketika perencanaan pembelajaran disusun guru. Sasaran, prosedur, dan proses pembelajaran perlu diskenariokan sebaik mungkin agar pembelajaran memberikan manfaat optimal. Jika guru memang ingin mengembangkan aspek terintegrasi dalam pembelajaran, guru harus mengawalinya pada tahap ini.
Perencanaan pembelajaran matematika terintegrasi antara lain meliputi: silabus, rancangan penilaian, dan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pada pengembangan silabus, guru harus mampu menjabarkan kurikulum menjadi uraian pembelajaran lebih rinci dengan memperhatikan pengembangan aspek terintegrasi. Silabus akan memberi pijakan kuat bagi penyusunan rencana pembelajaran selanjutnya. Rancangan penilaian juga merupakan aspek yang penting dicermati karena pada rancangan penilaian ini guru dapat merencanakan sasaran yang akan dinilai, instrumen penilaian yang akan digunakan, serta bagaimana penilaian tersebut akan dilaksanakan. Pada tahap pembuatan rancangan penilaian, guru harus menskenariokan bagaimana umpan balik terhadap pengembangan aspek terintergasi dilakukan. Penyusunan RPP juga harus dilaksanakan guru dengan memperhatikan pengembangan aspek terinterasi. Pada saat menyusun RPP, guru harus mampu merancang pembelajaran yang mendorong dan menjamin pengembangan aspek terintegrasi siswa dilaksanakan dan memberikan hasil seperti yang diharapkan.
4. Pelaksanaan pembelajaran
Keberhasilan pembelajaran matematika terintegrasi bergantung seberapa jauh guru mampu mendorong dan memantau kemajuan belajar siswa selama pembelajaran berlangsung. Guru memegang peranan kunci pada pelaksanaan pembelajaran, tetapi tidak berarti guru harus mendominasi kelas. Perhatian dan umpan balik guru mempengaruhi berhasil atau gagal siswa berkembang pada aspek terintegrasi. Guru harus membantu siswa tetap pada jalur menuju berkembangnya aspek terintegrasi. Kesepahaman di awal bahwa tujuan pembelajaran bukan sekedar mengejar target materi dan nilai melainkan juga mengembangkan aspek terintegrasi harus tetap dijaga dan diterjemahkan melalui kerjasama guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung.
Penciptaan kondisi belajar yang kondusif bagi pengembangan aspek terintegrasi mutlak diperhatikan guru. Untuk mendorong pengembangan aspek terintergasi perlu dibangun lingkungan sosial yang positif antar anggota komunitas belajar, antar siswa, atau antara siswa dan guru. Terbinanya hubungan yang harmonis antar anggota komunitas belajar akan mendukung hasil belajar yang lebih baik (Meier, D., 1999). Pelajaran matematika yang cenderung dipersepsikan dengan beban, aktivitas sulit, membosankan, tidak ada kegembiraan, rasa tertekan, dan entah perasaan negatif apalagi, perlu diubah. Guru harus mampu mengelola pembalajaran dengan tetap menjaga minat, motivasi, dan keoptimisan siswa. Guru perlu lebih kreatif menggubah kelas lebih menggembirakan, positif, dan membangkitkan semangat siswa belajar.
5. Penilaian
Penilaian dapat mempengaruhi perilaku belajar karena siswa cenderung mengarahkan kegiatan belajarnya menuju muara penilaian yang dilakukan guru (Mercer, 1989). Penilaian juga dapat memberikan umpan balik yang konstruktif, baik bagi siswa maupun guru. Pengembangan aspek terintegrasi perlu diberikan umpan balik yang tepat dalam pembelajaran sehingga siswa terjaga dan termotivasi pada aspek ini. Umpan balik dapat diberikan melalui respon langsung dalam pembelajaran maupun melalui penilaian kuantitatif dengan berbagai instrumen yang sesuai. Dengan demikian, penilaian dalam pembelajaran matematika terintegrasi menuntut kreativitas guru dalam menentukan cara dan alat ukurnya. Tes tidak lagi bisa diandalkan menjadi satu-satunya teknik penilaian. Guru harus menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan perluasan domain penilaian.
Penilaian aspek terintegrasi tidak harus selalu menggunakan cara dan pendekatan formalistik. Guru dapat mempertimbangkan penggunaan cara dan gaya penilaian orang tua terhadap anaknya yang dilakukan secara informal, simulatan, dan berkesinambungan. Orang tua tidak menggunakan pendekatan-pendakatan formal, tetapi dengan cara yang langsung dan spontan. Faktanya, cara dan pendekatan tersebut terbukti sangat mempengaruhi cara anak bereaksi dan mengadaptasikannya dalam kehidupan. Selama ini cara dan gaya penilaian tersebut terkesampingkan karena berbagai alasan, tetapi bukti nyata efektifitasnya dalam mendukung tumbuh kembang anak perlu menjadi perhatian dan inspirasi dalam penilaian pembelajaran matematika terintergasi.

E. SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan
a. Pembelajaran terintergasi adalah pembelajaran yang dalam prosesnya mengintegrasikan berbagai aspek lain di luar materi bidang studi yang diajarkan secara simultan dan berkelanjutan. Implementasi pembelajaran terintegrasi diharapkan menjadikan pendidikan matematika lebih bermakna.
b. Pembelajaran matematika terintegrasi sesuai dengan kebijakan pendidikan saat ini. UU No. 20 Th. 2003, Permendiknas No. 22 dan 23 Th. 2006, serta standar nasional pendidikan, secara nyata mengamanatkan pengintegrasian berbagai aspek dalam setiap pembelajaran, termasuk mata pelajaran matematika.
c. Aspek yang perlu dan bisa diintegrasikan dalam pembelajaran matematika sangat beragam, antara lain: soft skills, life skills, religiusitas, moralitas, kepribadian, dan pendidikan berwawasan lokal-global. Aspek-aspek tersebut dapat menjadi sasaran sekaligus katalisator proses pembelajaran.
d. Penerapan pembelajaran terintegrasi dalam pembelajaran matematika mensyaratkan komitmen dan kemampuan guru. Tanpa komitmen kuat guru akan kembali terjebak pada pembelajaran yang hanya mengejar materi dan nilai semata. Keberhasilan mengasupkan aspek terintegrasi diawali dengan menjadikannya sebagai sasaran pembelajaran, kemudian diskenariokan rancangan pembelajaran, serta dilaksanakan secara simultan dan berkelanjutan selama pembelajaran.


2. Saran
Pembelajaran matematika seharusnya tidak hanya berorientasi materi, tetapi perlu diarahkan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara utuh. Ruang longgar yang tersedia harus lebih dimanfaatkan untuk menggali dan memberdayakan segenap potensi pembelajaran matematika dalam memberikan manfaat bagi anak. Pembelajaran terintegrasi dapat menjadi alternatif guru matematika mengelola pembelajaran agar potensialitas pembelajaran matematika dapat lebih digali dan diberdayakan untuk sebesar-besarnya manfaat bagi pengembangan pribadi anak.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). 2006. Panduan Penyusunan KTSP
Burden & Dyrd. 1999. Effective teaching. United States : A Viacom Company
DePorter, B. dkk. 2000. Quantum teaching: Mempraktikkan quantum learning di ruang-ruang kelas. Bandung: Kaifa
Meier, D. 1999. The accelerated learning handbook : panduan kreatif dan efektff merancang program pendidikan dan peatihan. Bandung : Kaifa
Mercer. 1989. Teaching students with learning problems. United States: Merrill Publishing Company
Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian
Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Sumaryanta & Pratini, H.S. 2008. Reorientasi Pendidikan Melalui Pengembangan Soft-Skillss Dalam Pembelajaran. Makalah disampaikan pada Seminar Sehari dalam Rangka Lustrum Ke V SMA Negeri 7 Yogyakarta pada tanggal 22 Juni 2008
Sumaryanta. 2006. Pengembangan Soft Skills, Hak Anak yang Harus Dibayarkan. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika, diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta pada 26 Maret 2006



Tidak ada komentar:

Posting Komentar