Senin, Februari 22, 2010

Makam Pangeran Samber Nyowo

Ini adalah jalan menuju kemakam kerabat keraton Solo. Terletak diatas bukit yang subur dan berhawa sejuk sehingga meskipun jalanan menanjak terus namun tidak terasa capek. Lokasi bukit ini tidak jauh dari makam keluarga almarhum mantan presiden Soeharto. Dikiri kanan jalan terdapat pepohonan yang rimbun sehingga memberikan kesan alami. Meski yang saya kunjungi adalah areal pemakaman namun karena lingkungan yang demikian sejuk dan indah maka terasa amat nyaman berkunjung ketempat ini. Terletak diwilayah kabupaten Karanganyar arah jalan ke Tawangmangu, belok kekanan beberapa kilometer. Silahkan berkunjung...





Harus pakai kain kalau mau masuk area makam sebagai penghormatan.





LATIHAN UASBN 2010 PAKET I

Sorry we don't have any post abaut math. Wait for several days.




Minggu, Februari 21, 2010

DIENG PLATEAU



Coba gunakan kategori travelling sambil lihat foto lama, Dieng si sejuk menawan...









Sadeng Beach, Gunungkidul

Sadeng

Pantai Sadeng yang cantik mempesona. Berada diwilayah kabupaten gunungkidul, Yogyakarta. Akses jalan menuju tempat tersebut sudah sangat bagus meskipun dibeberapa tempat cukup sempit, berkelok tajam, naik turun. Namun begitu kita tiba dipantai rasa capaek dan tegang terobati seketika. Batu-batu yang tampak pada foto berfungsi sebagai pemecah ombak. Gadis cantik dan imut disana ....., tentu menambah semarak pantai sadeng nan elok. Maha besar sang Pencipta...
Tertarik? Silahkan berkunjung kapan saja ada waktu, bersama keluarga atau kekasih tercinta!





































Depok

Jika diamati foto berikut punya perbedaan yang cukup jelas dengan foto diatas. Tahukah Anda?
Nah, pasir pantainyalah yang nampak jelas berbeda dengan pasir pantai Sadeng. Dipantai ini pasirnya bewarna hitam, sedangkan pasir pantai Sadeng berwarna putih sekalipun dalam keadaan basah, butiran-butirannya juga lebih kasar, meski tetap terasa lembut dikaki kita.
Nah, pantai yang satu ini terletak sekitar 30km diselatan Jogja. Terkenal dengan aneka masakan dengan menu utama ikan laut yang disajikan diwarung-warung disekitar pantai. Harga cukup murah, dengan menikmati pemandangan laut selatan diwaktu sore sungguh sangat terasa nyaman sebagai sarana rekreasi keluarga. Itulah pantai Depok!












Contact Us

Supriyono
email : priaja@gmail.com
Mobile : 0811255129



Sabtu, Februari 20, 2010

HOME

Make home page




Abaut Us




Saya mengajar di salah satu SMP Negeri di Yogyakarta sejak tahun 1991. Sebelumnya saya mengajar di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Gunungkidul dari tahun 1980 sampai tahun 1990 akhir. Kini saya mengajar dikelas VIII RSBI mengampu mata pelajaran matematika.

Selasa, Februari 09, 2010

Senin, Februari 08, 2010

PEMBELAJARAN MIPA DALAM BAHASA INGGRIS DI SMP

Latar Belakang

Penguasaan bahasa Inggris sifatnya keharusan bagi bangsa Indonesia agar dapat memainkan perannya di dunia internasional secara optimal dan tidak semakin ketinggalan dalam ilmu pengetahuan dan teknologi.
Penguasaan bahasa Inggris sebagian besar bangsa Indonesia, termasuk lulusan dari semua jenis dan jenjang pendidikan, rendah.
Penguasaan bahasa Inggris yang rendah mengindikasikan kurang berhasilnya pembelajaran bahasa Inggris di sekolah.
Perlu dikembangkan pembelajaran bahasa Inggris yang efektif dan efisien agar penguasaan bahasa Inggris lulusan tinggi.
Pengembangan Sekolah Bertaraf Internasional
Menuju pada lulusan yang memiliki daya saing internasional
Penyebab-penyebab utama dari kekurang berhasilan pembelajaran bahasa Inggris

Kurangnya pajanan bahasa Inggris terhadap siswa
Kurang bermaknanya pembelajaran bahasa Inggris bagi siswa
Terbatasnya kesempatan siswa untuk berinteraksi dalam bahasa Inggris untuk mengkomunikasikan gagasan, perasaan, dan pengalaman riil dalam kehidupan sehari-hari
Kemampuan bahasa Inggris guru yang terbatas
Kurang memadainya sarana/prasarana pembelajaran bahasa Inggris
Lingkungan (kultural dan sosial) yang pada umumnya kurang kondusif
Berbagai upaya peningkatan mutu pembelajaran bahasa Inggris, namun demikian, upaya-upaya tersebut nampaknya belum dapat secara signifikan meningkatkan mutu penguasaan bahasa Inggris lulusan.
Perlu dikembangkan inovasi pembelajaran yang dapat mengatasi tantangan-tantangan tersebut.
Salah satu pendekatan pebelajaran bahasa ke dua atau bahasa asing yang telah terbukti secara efektif dan efisien dapat menjadikan penguasaan bahasa Inggris lulusan tinggi adalah program imersi (Johnson dan Swain, 1998).


Pengalaman berbagai negara yang menerapkan program imersi
Penguasaan lulusan dalam bidang studi setara dengan lulusan pada program reguler
Kemahiran bahasa asing lulusan program imersi jauh lebih tinggi dibandingkan dengan lulusan program regular.

Pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris di SMP
(pembelajaran MIPA bilingual atau imersi)

Melalui program ini:
Input Inggris bagi siswa meningkat,
Belajar bahasa Inggris menjadi bermakna tercipta karena siswa mempelajari materi atau kompetensi yang memang harus mereka kuasai,
Peluang yang luas bagi siswa untuk berkomunikasi dengan sebenarnya dalam bahasa Inggris tercipta karena proses pembelajaran berlangsung dalam bahasa Inggris.

WHAT IS IMMERSION PROGRAM?
Program that attempts to stimulate, to some extent, native like learning conditions by maximizing the time, intensity, and the quality of learners exposure to the target language and culture (Cohen, 1995).
An innovative program in which a second language is used as a medium of instruction for teaching core curricula in formal education such as in an elementary or secondary school (Cummins, 2005).
A program refers to the use of a second language or foreign language in school for teaching of content subjects (Richards et al, 1997).
An education scheme in which the child receives educational instruction in at least two languages with one of these being a mother tongue of some or all the students in the classroom (Walter, 2005).

Pengertian Pembelajaran MIPA Bilingual di SMP
Pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris adalah pembelajaran yang materi pembelajaran, proses belajar mengajar, dan penilaiannya dalam bahasa Inggris.
Bahasa pengantar bahasa Inggris dan Indonesia
Kurikulum (standar isi dan standar kompetensi lulusan)
yang berlaku secara nasional
Sekolah dapat menambah, memperluas, dan
memperdalam kurikulum yang berlaku sesuai dengan
perkembangan internasional dalam bidang Matematika dan
Sains
Nilai-nilai Indonesia
Guru bilingual
Siswa pada awal program memiliki kemahiran Bhs. Inggris
walaupun rendah


Tujuan
Menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi yang tinggi dalam MIPA sesuai dengan perkembangan ilmu-ilmu tersebut
Menghasilkan lulusan yang memiliki kemahiran berbahasa Inggris yang tinggi

Tahap pengembangan
Dimulai pada tahun pelajaran 2004/2005 di 34 SMP Koalisi
Nasional, masing-masing satu atau dua kelas.
SMP Koalisi Nasional dipandang mampu (telah dipersiapkan
sebelumnya; unggul dalam input, proses, dan output;
diproyeksikan menjadi sekolah nasional dengan standar
internasional)
Saat ini diimplementasikan pada 100 Rintisan SMP SBI.
Tapel 2008/2009 diperluas pada 100 RSBI SMP lainnya.

Pelaksanaan Pembelajaran MIPA Bilingual
Persiapan:
Pengembangan materi
Pengembangan multi-media pembelajaran
Pengembangan model pembelajaran
Seleksi dan pelatihan guru MIPA dalam bahasa Inggris dan metode pembelajaran
Seleksi dan pelatihan bahasa Inggris siswa

Pelaksanaan:

Prosentase penggunaan bahasa Inggris bervariasi tergantung pada kesiapan siswa dan guru dalam bahasa Inggris (pada tahap rintisan, dalam hal bahasa Inggris siswa lebih siap dibandingkan dengan guru)
Team teaching – kerjasama antara guru MIPA dan guru bahasa Inggris
Program pendukung untuk siswa (misalnya pelajaran tambahan bahasa Inggris)
Program pendukung/pendampingan untuk guru dengan in-house training


Hasil sementara:

Berjalan dengan cukup baik
Penguasaan kompetensi bidang studi oleh siswa pada umumnya sebanding dengan penguasaan siswa reguler
Kemampuan bahasa Inggris siswa program bilingual jauh lebih baik dibandingkan dengan kemampuan siswa regular

Model-Model Pembelajaran MIPA dalam Bahasa Inggris

Harus dihindari dihasilkannya lulusan dengan bahasa Inggris kelas 2 karena jeleknya tatabahasa dan ucapan.
Pengalaman negara-negara lain yang telah mengimplementasikan program serupa (program imersi):
Pencapaian kompetensi siswa dalam bidang studi sebanding dengan kelas reguler,
Penguasaan yang tinggi dan seimbang dalam bahasa target (bahasa yang hendak dikuasai) dan bidang studi biasanya sulit dicapai secara bersamaan.
Penguasaan bahasa lulusan dalam bahasa target jauh lebih tinggi dibandingkan dengan lulusan yang mengikuti kelas reguler, tetapi tidak sepadan dengan kemampuan penutur asli karena diwarnai oleh sejumlah kesalahan tatabahasa dan ucapan.

Model Pembelajaran

. Terpisah (parallel): perkembangan bahasa siswa difasilitasi melalui kegiatan penunjang di luar pembelajaran MIPA dalam Bahasa Inggris yang diikuti siswa di sekolah – language support program.
2. Terpadu (integrated): perkembangan bahasa siswa difasilitasi secara terpadu dalam pembelajaran MIPA dalam bahasa Inggris. Artinya, siswa menerima materi English for Mathematics and Science bersamaan ketika mereka menerima pelajaran MIPA dalam bahasa Inggris. Model ini cocok/sesuai untuk guru MIPA dengan pengetahuan kebahasaan tinggi.

WAYS TO ENSURE THE SUCCESS OF IMMERSION PROGRAM IN INDONESIA

School runs language support programs for teachers and students.
Professional school management by people with good understanding of immersion program – they are not involved in teaching.
School provides counseling for students with learning difficulties.
Selection test (in English) in addition to the normal selection procedure (mechanism).
Invite native speakers of English to motivate teachers and students to use English – in-house training
Bilingual signposts.
Competitions in English (speech, etc.)


IDEAS TO ENSURE THE SUCCESS OF IMMERSION PROGRAM IN INDONESIA
11. Voluntary participation in the program.
12. Math and science dictionary.
13. Organize English days.
14. Reward and punishment mechanisms.
15. Providing self-access learning centre.
16. In-house training.
17. Creating conducive classroom atmosphere to the use of English.
18. Involving students at every stage of learning (planning, implementation, evaluation, follow-up).
19. More time allocated for English classes.

Whose Child Left Behind?

Whose Child Left Behind?
By Jerry Webster, About.com Guide to Special Education
Saturday January 30, 2010
Time is soon approaching when the test prep will be over and the state high stakes state assessments will be rolled out. Ready?
I will definitely be spending some time offering suggestions to help you diffuse some of the anxiety of your students. And some sympathy for those who have to



administer an alternative assessment. Some of them are doozies (We see students from 5 states at my facility.) Those that don't qualify for the alternate test end up "snatchin' their heads bald." I've also heard the story of a local school district who tried, early on, to exceed their 3 percent in order to stack the deck in their favor. They got caught.
So, has No Child Left Behind done it's job? Are our schools better, or just our student's performance? And what about all the states that have dumbed down their state tests to increase their success rate?
I know, after working in inner city schools, that the energy that goes into improving test scores, as opposed to real instruction, is significant. In my second placement, we did not teach science until after the state test. We were not allowed to teach science until after the state test. I know lots of strategies for improving student scores, and even some good strategies to teach content in ways that support the student's performance on the test. But get out into some of the suburbs, and you find they don't need preparation. My younger son never did test prep and received outstandings from 3rd through 8th grades. Are we really closing the gap?
US News and World Report has an excellent feature on No Child Left Behind. Margaret Spelling reflects her loyalty to the failed Bush administration, of course. Randi Weingarten's loyalties are to teachers, especially to teachers in large cities where the AFT tends to dominate. Their points of view are still important. Michael Cohen and Andrew Rotherman share some really incisive observations. What's your point of view?


Sabtu, Februari 06, 2010

PANDUAN ANALISIS BUTIR SOAL

Kegiatan menganalisis butir soal merupakan suatu kegiatan yang harus dilakukan guru untuk meningkatkan mutu soal yang telah ditulis. Kegiatan ini merupakan proses pengumpulan, peringkasan, dan penggunaan informasi dari jawaban siswa untuk membuat keputusan tentang setiap penilaian (Nitko, 1996: 308).


Tujuan penelaahan adalah untuk mengkaji dan menelaah setiap butir soal agar diperoleh soal yang bermutu sebelum soal digunakan. Di samping itu, tujuan analisis butir soal juga untuk membantu meningkatkan tes melalui revisi atau membuang soal yang tidak efektif, serta untuk mengetahui informasi diagnostik pada siswa apakah mereka sudah/belum memahami materi yang telah diajarkan (Aiken, 1994: 63). Soal yang bermutu adalah soal yang dapat memberikan informasi setepat-tepatnya sesuai dengan tujuannya di antaranya dapat menentukan peserta didik mana yang sudah atau belum menguasai materi yang diajarkan guru.

Dalam melaksanakan analisis butir soal, para penulis soal dapat menganalisis secara kualitatif, dalam kaitan dengan isi dan bentuknya, dan kuantitatif dalam kaitan dengan ciri-ciri statistiknya (Anastasi dan Urbina, 1997: 172) atau prosedur peningkatan secara judgment dan prosedur peningkatan secara empirik (Popham, 1995: 195). Analisis kualitatif mencakup pertimbangan validitas isi dan konstruk, sedangkan analisis kuantitatif mencakup pengukuran kesulitan butir soal dan diskriminasi soal yang termasuk validitas soal dan reliabilitasnya.

Jadi, ada dua cara yang dapat digunakan dalam penelaahan butir soal yaitu penelaahan soal secara kualitatif dan kuantitatif. Kedua teknik ini masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Oleh karena itu teknik terbaik adalah menggunakan keduanya (penggabungan). Kedua cara ini diuraikan secara rinci dalam buku ini.

Nah, lebih lanjut, download saja disini, gratis kok!



Teknik Penulisan Butir Soal

DIKLAT PENULISAN SOAL BAGI GURU SEKOLAH MENENGAH PERTAMA
Tgl. 26 s.d. 29 Januari 2010
Bagi anda yang belum memiliki buku panduan teknik penulisan butir soal silahkan dowload disini.



A. Latar Belakang
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 14 tahun 2005 tentang Organisasi dan Tata Kerja Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Departemen Pendidikan Nasional menyebutkan bahwa salah satu tugas Direktorat Pembinaan SMA - Subdirektorat Pembelajaran adalah melakukan penyiapan bahan kebijakan, standar, kriteria, dan pedoman serta pemberian bimbingan teknis, supervisi, dan evaluasi pelaksanaan kurikulum. Lebih lanjut dijelaskan dalam Permendiknas Nomor 25 tahun 2006 tentang Rincian Tugas Unit Kerja di Lingkungan Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah bahwa rincian tugas Subdirektorat Pembelajaran – Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas antara lain melaksanakan penyiapan bahan penyusunan pedoman dan prosedur pelaksanaan pembelajaran, termasuk penyusunan pedoman pelaksanaan kurikulum.

Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dan Peraturan Pemerintah Nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan membawa implikasi terhadap sistem dan penyelenggaraan pendidikan termasuk pengembangan dan pelaksanaan kurikulum. Kebijakan pemerintah tersebut mengamanatkan kepada setiap satuan pendidikan dasar dan menengah untuk mengembangkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang mengacu pada Standar Nasional Pendidikan.

Pada kenyataannya dalam melaksanakan KTSP termasuk sistem penilaiannya, banyak pendidik yang masih mengalami kesulitan untuk menyusun tes dan mengembangkan butir soal yang valid dan reliabel. Oleh karena itu, Direktorat Pembinaan SMA membuat berbagai panduan pelaksanaan KTSP yang salah satu di antaranya adalah panduan penyusunan butir soal.


B. Tujuan

Tujuan penyusunan panduan ini adalah untuk meningkatkan kemampuan profesional guru khususnya dalam penulisan butir soal. Setelah mempelajari panduan ini diharapkan para guru dapat menyusun kisi-kisi dengan benar dan mengemabngkan butir soal yang valid dan reliabel.


C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup yang dibahas dalam panduan ini meliputi penilaian berbasis kompetensi, teknik, alat penilaian dan prosedur pengembangan tes, penyusunan kisi-kisi, dan penyusunan butir soal.

Lebih lanjut, silahkan dowload saja nggih, gratis kok!


Jumat, Februari 05, 2010

Steps of lesson plan in mathematics

I. Objective
II. Subject matter
* Skills
* References
* Materials
Values:

V. Assignment

III. Procedure
A. Preparatory Activities
1. Drill
2. Review
a. Checking of assignment
B. Developmental activities
1. Motivation
2. Presentation
3. Comparison and Abstraction
4. Generalization
5. Fixing skills/application
IV. Evaluation

Sample Lesson Plan in Mathematics IV

I. OBJECTIVES
Solve word problems involving perimeter of a square/rectangle
II. SUBJECT MATTER
Solving word problems involving perimeter of a square/rectangle.
Reference: Grade School Math 4 pp. 208 – 209
BEC. PELC IV .A.3.1
Material: Cut – outs of different shapes and sizes, chart, flashcards, show – me - boards
Values: Honest
PRCOCEDURE
A. Preparatory activities

1. Drill
Solve the following orally.
1. 7+7+4+4
2. 5+5+8+8
3. 7+7+7+7
4. 6+6+9+9
5. 5+5+5+5

2. Review

Find the perimeter of the following figures.
1.
6m


2. 5cm


3cm
3. 4cm


9cm
4.

8cm

5.
7cm



3. Checking of assignment


B. Developmental Activities


1. Motivation
If you are asked to buy the materials for fencing your garden. Will you give the actual cost of the materials? Stress the importance of being honest.
2. Presentation
Present the following word problems.

Concerned citizens of a barangay are cleaning and fencing a big vacant lot that measures 30m long and 25m wide to make it into a community vegetable garden. What is the distance around or the perimeter of the lot?
3. Comparison and Abstraction
* What are concerned citizens doing in their barangay?
* How long and how wide is the vegetable garden?
* Can you draw a diagram of a garden on the board?
* What are you going to find out the problem?
* How do you find the distance around the vacant lot?
* What process is to be used to find the perimeter of a rectangle?
* How do you solve for the perimeter of a rectangle?
* What formula will you use? Why?
* Guide the pupils in solving the perimeter.
* How do you write the answer?
* What is the unit of measure for perimeter?
* Present another word problem.

Mrs. Flores orders a square – shaped dining table for her new house. The table is 4 meters in each side. What is the perimeter of the dinning table?

4. Group activity
a. Divide the class into 4 groups.
b. Set the standards for group activity.
c. Distribute the activity card to each group.
d. Have them solve word problems involving perimeter of a square or rectangle
Group 1
Mr. Asuncion’s table is 45 cm wide and 80 cm long. What is the perimeter of the table

Group 2
Mandy brought a lot measuring 15 cm and 12 m wide. What is the perimeter of the lot?

Group 3
Mang Pilo put a sari - sari store of a square lot in front of the house. The lot measure 3m on each side. What is the perimeter of a lot?

Group 4
One side of a square playground of a Tampok Elementary School measures 50m. How many meters of chicken wire are needed to enclose the playground?

e. Reporting of output by each group.
5. Generalization
How do you solve word problem, involving perimeter of a square of a s quare of rectangle?

6. Application
Solve the following problems, use your show- me - board for your computation.

1. A square swimming pool measure 7 cm on each side. What is the perimeter?
2 Romania made a rectangular frame that measure 10cm wide and 15 cm long what is the perimeter of the frame?
3. Find the perimeter of a house lot which is 20m long and 20m wide?
Evaluation
Choose the letter of the correct answer.


1. A room is 20 meters long and 13 meter wide. What is the perimeter of a room?
a.33m b. 56m c.76m
2. Raul has a square garden which measures 8 meters on each side. What is its perimeter?
a. 22m b. 42m c. 52m
3. A fishponds has a length of 7 meters and a width of 6 meters. How much wire is needed to fence the fishponds?
a. 26m b. 36m c. 16m
4. A Ping-Pong table measures 3m long and 2 m wide. What is the perimeter of the table?
a. 12m b. 10m c.14m
5. How many centimeters of lace will be used to decorate the edges of a square handkerchief measuring 27cm on each side?
a. 109cm b. 110cm c. 105cm

V. Assignment
Read and solve.
1. A square picture frame has a side of 4cm. what is its perimeter?
2. How many meters of wire are needed to enclose a rectangular yard 12 meters land 7 meters wide?
3. A rectangular garden has a length of 2m width and 6m. What is its perimeter?

Others sample Lesson Plan :

LESSON PLAN IN MATHEMATICS IV


I. At the end of the session the students should be able to:
l. Define and identify a quadratic function.
2. Transform a Function in standard form f(x)= ax2 + bx + c

II. Subject Matter:

A. Quadratic Functions
Sub – Topic : Definition of a Quadratic Function
Rewriting Quadratic Functions in the form f(x) = ax2 + bx + c

B. References: Making Corrections in mathematics by Obana and Mangaldan
pp. 79-81.
Advanced Algebra by Dilao, Orines and Bernabe pp. 53- 56

C. Materials: Manila paper, pentel pen, chalk, eraser

D. Strategy: Teacher Expository

E. Values: Patience, Industry, Orderliness

III. Procedure:

A. Checking of Assignments

B. Unlocking of difficulties/ Recall (Multiplication of Binomials)

C. Development of the lesson:
1. Introduction to the lesson
2. Presentation of illustrative examples
i. Determine which of the following are quadratic functions
a). f(x) = x2 + 7x + 12
b). f(x) = 5 – 4x
c). f(x) = ( 4 + 3x)2
d). g(x) = 3x – 5x3
e). g(x) = -2x2
f). h(x) =3x2 – 5x - 12
g) h(x) = 2x2 - x + 5
3 4
h). h(x) = (x-3)2 – (x +2)2

ii. State the value of a, b and c in each of the following
functions/equations:

a.) f(x) = x2 + 5x +-14
b.) f(x)= 6 – 5x2
c.) f(x) = x2 + 7x + 6
d.) 4x2 + 8x = -3
e.) a2- 25 = 0
f.) 3n2- 18n + 6 = 0





iii. Transform each of the following functions in the form f(x)= ax2 + bx + c

a.) f(x) = ( x + 2)2
b.) f(x) = (x- 4)2 – 7
c.) g(x) = - (2x + 1)2 + 3
d.) h (a) = 1 – 3a + 4a2
e, ) h(m) = 3 (x – 5)2 – 2

3. Generalization

a.) What is the degree of a quadratic function?

b) How do you rewrite a quadratic function in the form f(x)= ax2 + bx + c


4. Practice Exercises
Rewrite each of the following in the form f(x) = ax2+ bx + c, then state the value of a, b and c.

a.) f(x) = ( x – 5)2 + 7
b.) f(x) = (x + 1)2 – (x+ 1) + 2
c.) g(x) = 3(x+ 1)2 -5
2 2



5. Evaluation:
Choose which of the following are quadratic functions then rewrite them in the
form f(x) = ax2 + bx + c. State the value of a, b and c.

a.) g(x) = x2 – 4x + 1/3
b.) g(x) = (x – 4)2 + 8x3
c.) h(x) = -2( x + 3 )2 – 9
d.) h(x) = 2(x-3)
e.) f(x) = x+ 1
f.) f(x) = (x + 1)2 – 2(x – 2) + 3x

IV Assignment:
Answer Exercise No.2 a, b, c, d, e
Reference: Exploration and Application Workbook p.41




Prepared by:
Mrs. Eva M. Vila
M T-II




PENDIDIKAN MATEMATIKA INKLUSIF: TANTANGAN BARU PENDIDIKAN MATEMATIKA UNTUK SEMUA

Perbincangan tentang kebijakan Pemkot Yogyakarta yang memberikan kesempatan pada siswa KMS, untuk
dapat mengikuti/melanjutkan pendidikannya diberbagai sekolah negeri tanpa mempertimbangkan perolehan nilai ditingkat sekolah sebelumnya sangatlah menarik. Lepas dari pendapat setuju atau tidak setuju, penulis ingin menayangkan artikel ini sebagai tambahan wawasan tentang sebuah sistem pendidikan yang mungkin akan bermanfaat bagi kita,khususnya guru dan calon guru matematika, pendidik pada umunya, pemerhati pendidikan atau siapapun yang berkecimpung dan peduli dengan dunia pendidikan. Tulisan/makalah ini disampaikan pada Seminar Nasional Pembelajaran Matematika Sekolah di Jurdik Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta, 6 Desember 2009, oleh Sumaryanta Mpd, Dosen UPY Jurusan Pendidikan Matematika dan guru SMK Negeri 1 Nglipar, Gunungkidul, Yogyakarta Selamat mengikuti.

PENDIDIKAN MATEMATIKA INKLUSIF:
TANTANGAN BARU PENDIDIKAN MATEMATIKA UNTUK SEMUA

Oleh: Sumaryanta

Abstrak

Pendidikan inklusif merupakan reformasi sistem pendidikan merespon keberagaman kebutuhan belajar dan heterogenitas sosial tanpa eksklusifitas yang memberikan harapan lebih besar bagi tercapainya education for all. Pendidikan inklusif telah mulai berkembang di Indonesia. Pendidikan matematika harus mampu beradaptasi dan berkontribusi bagi terwujudnya pendidikan inklusif. Reformasi menuju pendidikan matematika inklusif merupakan tantangan bagi pendidikan matematika untuk semua. Selama ini pendidikan matematika belum dilaksanakan sesuai prinsip-prinsip inklusifitas. Pembelajaran matematika lebih mengedepankan penyeragaman daripada penyesuaian keberagaman siswa. Pendidikan matematika memerlukan perubahan mendasar agar menjadi lebih inklusif, baik tataran filosofi, sistem, maupun praktek di sekolah. Tanpa perubahan tersebut pendidikan matematika inklusif hanya akan menjadi angan-angan.

Kata kunci: pendidikan matematika, pendidikan inklusif, pendidikan untuk semua

A. Pendahuluan
1. Latar Belakang
Diskursus keprihatinan terhadap pendidikan matematika di Indonesia tak surut dibicarakan. Fakta bahwa pendidikan matematika memiliki sejumlah masalah yang belum terpecahkan memang sulit terbantahkan. Upaya mengatasi problematika tersebut selama ini memang belum menunjukkan hasil menggembirakan. Tetapi, tanpa bermaksud mengabaikan hal tersebut, tidak seharusnya kita berkutat dengan permasalahan itu. Perkembangan sistem pendidikan berjalan sangat dinamis. Dinamika tersebut menuntut pensikapan yang tepat dalam pendidikan matematika.
Salah satu inovasi baru sistem layanan pendidikan yang sedang berkembang dan menuntut adaptasi dalam pendidikan matematika adalah PENDIDIKAN INKLUSIF. Pendidikan inklusif merupakan proses menuju dan merespons keberagaman kebutuhan peserta didik melalui peningkatan partisipasi belajar, budaya, dan masyarakat, serta mengurangi ketertinggalan dalam dan dari pendidikan. Pendidikan inklusif merupakan salah satu jalan merealisasikan education for all.
Isu tentang pendidikan inklusif telah berkembang mulai tahun 1970s, namun baru akhir-akhir ini perkembangannya mengalami kemajuan pesat. Renato Opertti dari Biro Pendidikan Internasional UNESCO mengatakan pendidikan inklusif kini telah tumbuh menjadi perhatian dunia yang menantang reformasi pendidikan di semua negara maju dan berkembang (Napitupulu, E.L., 2008). Sasarannya adalah memberikan layanan pendidikan berkualitas dengan memperhitungkan kemampuan belajar anak yang berbeda, mengurangi eksklusivitas, dan tidak mengajarkan pengetahuan akademik semata.
Pendidikan inklusif memerlukan perubahan filosofi, sistem, dan praktek pendidikan. Tanpa perubahan tersebut, pendidikan inklusif sampai kapan pun hanya menjadi angan-angan, tidak akan pernah terwujud. Pendidikan matematika, sebagai bagian integral pendidikan, harus mampu beradaptasi dan berkontribusi bagi terwujudnya pendidikan inklusif. Reformasi menuju pendidikan matematika inklusif merupakan tantangan baru bagi pendidikan matematika untuk semua.
2. Rumusan Masalah
Bagaimanakah tantangan mewujudkan pendidikan matematika inklusif di Indonesia?
3. Tujuan dan Manfaat
Tujuan makalah ini adalah:
a. Memaparkan konsep dasar pendidikan inklusif serta implementasinya di Indonesia
b. Merefleksikan praktek pendidikan matematika dalam perspektif pendidikan inklusif
c. Mengkomunikasikan tantangan baru pendidikan matematika dalam mewujudkan pendidikan inklusif
Manfaat makalah ini adalah:
a. Dapat mengenalkan filosofi dan konsep dasar pendidikan inklusif kepada praktisi dan penggiat pendidikan matematika
b. Dapat menumbuhkembangkan kesadaran dan pandangan positif praktisi dan penggiat pendidikan matematika tentang pendidikan inklusif dan tantangannya dalam pendidikan matematika
c. Dapat mendorong diskusi dan penelitian dalam rangka mewujudkan pendidikan matematika inklusif

B. Konsep dasar dan implementasi pendidikan inklusif di Indonesia
Pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang memberikan kesempatan semua anak belajar bersama di sekolah umum dengan memperhatikan keragaman dan kebutuhan individual (Smith, D.J., 2006). Semangat pendidikan inklusif adalah memberikan akses yang seluas-luasnya kepada semua anak, termasuk anak berkebutuhan khusus (ABK), untuk memperoleh pendidikan yang bermutu dan layanan pendidikan yang sesuai dengan kebutuhannya.
Pendidikan inklusif lahir sebagai bentuk ketidakpuasan pendidikan bagi ABK dengan sistem segregasi (menempatkan ABK di sekolah khusus) dan integrasi (ABK diberi kesempatan belajar bersama anak reguler di sekolah reguler). Model segregasi tidak menjamin kesempatan ABK mengembangkan potensi secara optimal (Reynolds dan Birch, 1988). Secara filosofis model segregasi tidak logis, karena menyiapkan peserta didik kelak berintegrasi dengan masyarakat normal, tetapi dipisahkan dengan masyarakat normal. Model integrasi juga dianggap tidak memberi layanan tepat karena fokus perhatian pada anak secara individual, bukan sistem (Stubbs, 2002). Anak dipandang sebagai masalah dan harus siap diintegrasikan.
Pendidikan inklusif, walaupun mirip dengan pendidikan integrasi dalam hal menempatkan ABK pada sekolah reguler, berasal dari dasar filosofis berbeda. Pendidikan inklusif didasarkan pada hak asasi dan model sosial; sistem yang harus disesuaikan dengan anak, bukan anak yang menyesuaikan sistem. Pendidikan harus mampu menyediakan pendidikan yang dibutuhkan semua anak di komunitas tersebut, apapun tingkat kemampuan atau ketidakmampuan mereka. Dengan demikian, bukan sistem pendidikan yang mempunyai hak atas anak, tetapi sistem yang harus disesuaikan agar memenuhi kebutuhan semua anak.
Pendidikan inklusif merupakan pendidikan masa depan, suatu harapan baru pendekatan pengembangan pendidikan berwawasan keberagaman yang dalam implementasinya dapat merombak eklusifitas dalam masyarakat (Mulyadi dan Sumaryanta, 2008). Prinsip mendasar pendidikan inklusif adalah selama memungkinkan, semua anak seyogyanya belajar bersama tanpa memandang kesulitan atau perbedaan mereka. Semua manusia diciptakan setara meskipun berbeda-beda. Walaupun berbeda penampilan, kesehatan, kemampuan dan keberfungsian, semua dilahirkan dalam satu masyarakat yang sama. Penting mengakui bahwa masyarakat yang lengkap ditandai dengan keragaman–bukan dengan kesamaan.
Di Indonesia, pendidikan Inklusif memiliki landasan filosofis yang kuat. Pancasila yang merupakan lima pilar sekaligus cita-cita yang didirikan atas fondasi Bhineka Tunggal Ika, menjadi landasan filosofis utama penerapan pendidikan inklusif (Abdulrahman, M., dalam Depdiknas, 2004). Semboyan ‘Bhineka Tunggal Ika’ mencerminkan nilai inklusif yang telah diyakini selama berabad-abad. Bertolak dari filosofi Bhineka Tunggal Ika, kelainan (kecacatan) dan keberbakatan hanya bentuk kebhinekaan. Sistem pendidikan harus memungkinkan pergaulan dan interaksi antar siswa yang beragam, sehingga mendorong sikap silih asah, silih asih, dan silih asuh dengan semangat toleransi.
Secara yuridis, pendidikan inklusif sejalan dengan UUD 1945 yang mengamanatkan bahwa setiap warga Negara memiliki hak dan kewajiban secara penuh untuk mendapatkan layanan pendidikan. Penerapan pendidikan inklusif juga dijamin UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. UU ini menyebutkan bahwa penyelenggaraan pendidikan untuk ABK diselenggarakan secara inklusif atau berupa sekolah khusus. Pendidikan inklusif di Indonesia semakin dikuatkan dengan disyahkannya Permendiknas No. 70 Tahun 2009 tentang pendidikan inklusif. Permendiknas ini diharapkan menjadi instrumen baru yang semakin mendorong terwujudnya pendidikan inklusif.
Indonesia secara formal menyatakan “Indonesia Towards Inclusive Education” pada Agustus 2004 ditandai dengan “Deklarasi Bandung” yang secara nyata menyebutkan komitmen pada pendidikan inklusif. Implementasi pendidikan inklusif salah satunya diwujudkan melalui sekolah inklusi. Sekolah inklusi merupakan sekolah biasa (reguler) yang mengakomodasi ABK belajar bersama siswa umum (Depdiknas, 2007). Setiap sekolah pada dasarnya dapat menyelenggarakan pendidikan inklusif. Sekolah tersebut harus mampu menyelenggarakan pendidikan secara inklusif, komunitas kohesif, menerima dan responsif terhadap kebutuhan individual siswa.
Pada tahun 2007, jumlah sekolah inklusi di Indonesia mencapai 796 buah tersebar di 33 provinsi (17 pra sekolah, 648 sekolah dasar, 75 SMP, dan 56 SLTA). Dalam pelaksanaan operasional penyelenggaraan sekolah inklusi juga sudah diterbitkan Prosedur Operasi Standar Pendidikan Inklusi yang terdiri dari beberapa pedoman yaitu pedoman umum, pedoman khusus, dan suplemen penyelenggaraan. Perkembangan ini menunjukkan kemajuan prakarsa pemerintah dan para praktisi pendidikan mengimplementasikan pendidikan inklusif.
C. Potret pendidikan matematika di sekolah inklusi
Pendidikan inklusif yang menghargai semua siswa dengan keunikan mereka tidak serta merta berjalan mudah, termasuk dalam pendidikan matematika (Susetyawati, E., dkk., 2008). Sistem pendidikan yang masih mengedepankan penyeragaman untuk memenuhi target kurikulum daripada penyesuaian dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik merupakan salah satu kendala utama. Padahal, untuk bisa menjalankan pendidikan matematika inklusif, filosofi, sistem, maupun praktek pendidikan harus berubah.
Paradigma standarisasi pendidikan menyebabkan praktek pembelajaran matematika di sekolah inklusi dilaksanakan seperti pada sekolah reguler. Guru matematika di kelas inklusi masih cenderung mengajar sesuai kemampuan siswa normal. Proses pembelajaran dan penilaian dilaksanakan berdasar pada logika sekolah reguler sehingga ABK kurang mendapatkan layanan yang sesuai. Praktek seperti ini menyerupai bentuk sekolah model integrasi dimana ABK yang harus menyesuaikan dengan pembelajaran yang dilaksanakan, bukan pembelajaran yang disesuaikan dengan keunikan kebutuhan belajar mereka.
Protret buram pendidikan matematika, baik dari sisi proses maupun hasil, yang selama ini terjadi pada pendidikan matematika di sekolah reguler juga terjadi pada sekolah inklusi, bahkan menjadi lebih rumit. Seperti halnya pada pembelajaran matematika di sekolah reguler selama ini, guru matematika sekolah inklusi banyak menerapkan model pembelajaran konvensional dimana guru mendominasi kelas. Dominasi guru menyebabkan siswa pasif selama pembelajaran. Minat dan motivasi belajar siswa juga kurang nampak. Siswa seolah mengikuti pembelajaran sebagai sebuah rutinitas dan kewajiban. Dari sisi hasil, prestasi belajar matematika siswa sekolah inklusi umumnya rendah. Tingkat ketuntasan belajar siswa dalam mempelajari kompetensi yang diajarkan guru relatif rendah.
Permasalahan menjadi semakin pelik bagi ABK karena kurang memperoleh ruang memadai untuk belajar sesuai kemampuan. Proses belajar mengajar di kelas yang masih bertumpu pada pola pembelajaran kelas reguler mengakibatkan ABK sulit mengimbangi kecepatan belajar kelas. Keunikan belajar ABK menuntut perlakuan khusus guru. Jika guru tidak mampu memberikan layanan yang sesuai dengan kebutuhannya, ABK pasti mengalami kesulitan dalam mempelajari matematika. Tingkat kesulitan belajar matematika yang tinggi semakin sulit karena keterbatasan mereka. Hal ini kontraproduktif jika dilihat dari pemikiran awal pendidikan inklusif yang ingin memberikan layanan lebih baik bagi ABK.
Dalam pembelajaran, ABK sebenarnya didampingi guru pembimbing khusus (GPK), yaitu guru dari Pendidikan Luar Biasa (PLB) yang ditugaskan mendampingi ABK di Sekolah Inklusi. Selain dari PLB, sekolah mengupayakan GPK atas inisiatif sendiri, kerjasama dengan LSM, atau dari bantuan wali murid. Namun pendampingan yang dilakukan GPK tidak selalu bisa membantu. Secara material, GPK tidak selalu kompeten dalam matematika. Permasalahan teknis tentang materi pelajaran matematika seringkali tidak dikuasai oleh GPK, terutama pada tingkat SLTP dan SLTA. Selain itu, GPK dari PLB tidak selalu bisa mendampingi. Mereka datang hanya pada jadwal tertentu, biasanya 2-3 kali perminggu. Jika pada jam pelajaran matematika GPK tidak datang maka pendampingan belajar dilakukan guru kelas. Keterbatasan pengetahuan dan kemampuan guru kelas tentang ABK menyebabkan mereka kesulitan memberikan pendampingan.

D. Tantangan mewujudkan pendidikan matematika inklusif
Seiring semakin berkembangnya implementasi pendidikan inklusif di Indonesia, reformasi menuju pendidikan matematika inklusif merupakan keniscayaan. Pembelajaran matematika inklusif menjadi tantangan baru bagi pendidikan matematika ke depan. Pendidikan matematika inklusif memerlukan perubahan filosofi, sistem, dan praktek pendidikan. Tanpa perubahan tersebut, pendidikan matematika inklusif sampai kapan tidak akan dapat terwujud.
Tahap awal paling kritis keberhasilan pendidikan matematika inklusif adalah persepsi terhadap pendidikan inklusif itu sendiri. Ketika awal diperkenalkan, ide inklusif menghadapi skeptisme dan penolakan karena: (1) pendidikan inklusif dianggap hanya istilah lain pendidikan integrasi; (2) kebijakan tidak memungkinkan pemberlakuan pendidikan inklusif; serta (3) peralihan dari sekolah khusus terlalu sulit (Ichrom, 2008). Skeptisme dan penolakan ini merupakan tantangan terbesar menuju pendidikan yang menerima prinsip-prinsip inklusifitas, termasuk pada pendidikan matematika. Pergulatan dan pertentangan pemikiran tentang pendidikan inklusif tersebut harus dilewati sebagai pintu awal reformasi menuju pendidikan matematika inklusif. Tanpa kesadaran dan penerimaan bahwa konsep inklusifitas sebagai sesuatu yang positif, pendidikan matematika inklusif sulit diwujudkan.
Pendidikan matematika inklusif memerlukan perubahan paradigma kebijakan pendidikan. Kebijakan yang lebih mengedepankan penyeragaman daripada penyesuaian dengan kebutuhan dan kemampuan peserta didik berdampak pada sulitnya mewujudkan pendidikan matematika inklusif. Prinsip dasar inklusif adalah menghargai perbedaan dalam diri setiap anak, bukan penyeragaman. Dengan demikian, pendidikan matematika inklusif hanya akan terwujud jika didukung kebijakan pendidikan yang berwawasan keberagaman. Inklusifitas dalam pendidikan matematika bergantung sejauh mana kebijakan pendidikan memberi ruang pada terakomodasinya perbedaan.
Pendidikan matematika inklusif mensyaratkan reorientasi pendidikan. Orientasi pembelajaran harus lebih diperluas sesuai dengan keberagaman siswa. Pendidikan yang dominan berorientasi akademik berakibat pada anggapan bahwa nilai yang rendah berarti siswa telah gagal belajar. Keterjebakan pada orientasi sempit ini berdampak pada pelaksanaan pembelajaran matematika yang sempit, miskin, dan tidak bermakna. Prinsip-prinsip inklusifitas tidak akan dapat tumbuh dan berkembang dalam pendidikan matematika yang demikian. Setiap siswa berkembang secara utuh dalam seluruh dimensi dirinya, bukan semata-mata aspek akademik. Nilai hanya menunjukkan sebagian dari capaian, tidak seharusnya menjadi kriteria utama dalam menafsirkan dinamika tumbuh kembang anak.
Kurikulum, proses pembelajaran, dan penilaian pada pendidikan matematika harus diselaraskan dengan prinsip-prinsip pendidikan inklusif. Ketiganya merupakan tiga dimensi yang sangat penting dan saling berkait dalam praktek pendidikan (Surapranata, dkk., 2004). Kurikulum merupakan penjabaran tujuan pendidikan yang menjadi landasan program pembelajaran. Proses pembelajaran merupakan upaya yang dilakukan untuk mencapai tujuan yang dirumuskan dalam kurikulum. Penilaian merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengukur dan menilai tingkat pencapaian kurikulum serta berhasil tidaknya proses pembelajaran. Reformasi menuju pendidikan matematika inklusif tidak akan terjadi tanpa menyentuh ketiga aspek tersebut.
Kurikulum pendidikan matematika harus direstrukturisasi agar lebih adaptif dan sesuai dengan kebutuhan pendidikan inklusif. Kurikulum berbasis standarisasi perlu dirubah menuju kurikulum berwawasan keberagaman. Kegiatan pembelajaran matematika juga harus dirancang sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan karakteristik peserta didik. Pembelajaran sebagai bagian utama pendidikan perlu disesuaikan agar hak belajar peserta didik tidak ada yang terabaikan. Guru matematika, demi keberhasilan belajar siswa yang lebih baik, harus mau dan mampu memilih strategi pembelajaran yang bisa mengakomodasi kebutuhan belajar seluruh siswa, baik siswa normal maupun ABK.
Pendidikan matematika inklusif juga menuntut penyesuaian dalam penilaian. Penilaian adalah aspek yang tidak dapat dipisahkan dengan kurikulum dan porses pembelajaran. Penilaian merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengukur dan menilai tingkat pencapaian kurikulum serta berhasil tidaknya proses pembelajaran. Penilaian juga digunakan untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan proses pembelajaran, sehingga dapat dijadikan dasar pengambilan keputusan. Oleh sebab itu, disamping kurikulum dan proses pembelajaran yang sesuai, pendidikan inlusif memerlukan sistem penilaian yang tepat. Penilaian harus mampu menjadi bagian dari instrumen yang mendorong pengembangan siswa secara adil dan objektif.
Mengingat penting dan strategisnya program pendidikan Inklusif, berbagai kebutuhan di atas perlu segera dicarikan solusinya. Seluruh stakeholders pendidikan matematika harus bahu membahu menuju terwujudnya pendidikan matematika yang inklusif. Guru, sebagai ujung tombak pendidikan matematika di kelas harus mau dan mampu merubah paradigma dan praktek pembelajaran sesuai dengan prinsip pendidikan inklusif. Guru harus meningkatkan pengetahuan dan pemahaman tentang pendidikan inklusif agar memiliki perspektif positif dan memudahkan mengembangkan kecakapan menuju guru matematika yang inklusif. Keputusan dan keberlanjutan partisipasi guru sangat bergantung pada sejauh mana guru menerima filosofi dan konsep dasar pendidikan inklusif itu sendiri. Tanpa penerimaan tersebut, partispasi guru dalam mewujudkan pendidikan matematika inklusif akan terhambat, dan mungkin guru justru menjadi penghambat.
Dalam rangka menghasilkan guru matematika yang memiliki kepedulian dan kemampuan mengembangkan pendidikan matematika inklusif diperlukan dukungan dari LPTK. LPTK, sebagai penghasil guru pendidikan matematika, perlu mengambil prakarsa dan langkah kongkrit dalam mewujudkan pendidikan matematika inklusif. LPTK diharapkan mampu menghasilkan guru yang memiliki paradigma baru kearah pendidikan berwawasan keberagaman. Penting diupayakan agar calon guru dibekali keterampilan pengajaran yang mendukung pelaksanaan pendidikan matematika inklusif. Perpektif positif dan ketrampilan guru tentang pendidikan inklusif sangat berarti bagi partisipasi dan kontribusi mereka dalam mewujudkan pendidikan matematika inklusif.
Pemikir dan pemerhati pendidikan matematika juga diharapkan partisipasi langsung dalam reformasi menuju pendidikan matematika inklusif. Pemikir dan pemerhati pendidikan matematika seharusnya mampu mengambil peran kongkrit dalam berbagai perubahan tersebut. Walaupun sebagian telah mengikuti dan menaruh perhatian pada pendidikan inklusif, tetapi lebih banyak diantara pemikir dan pemerhati pendidikan matematika yang mungkin belum mengenal pendidikan inklusif. Reformasi menuju pendidikan matematika inklusif memerlukan pemikiran kritis dan kreatif dari ahli-ahli pendidikan matematika. Tanpa partisipasi mereka, sulit diharapkan pendidikan matematika inklusif tersebut dapat segera terwujud.

E. Simpulan dan Saran
1. Simpulan
a. Pendidikan inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang memberikan kesempatan semua anak, termasuk ABK, belajar bersama di sekolah umum dengan memperhatikan keragaman dan kebutuhan individual. Pendidikan inklusif merupakan inovasi sistem pendidikan yang sedang berkembang dan menuntut adaptasi pendidikan matematika.
b. Pendidikan matematika inklusif memerlukan perubahan filosofi, sistem, dan praktek di sekolah. Pendidikan matematika yang selama ini belum dilaksanakan sesuai prinsip-prinsip inklusifitas harus diubah lebih terbuka (inklusif) sehingga mampu memberikan layanan sesuai dengan keberagaman kebutuhan belajar setiap siswa.
c. Pendidikan matematika inklusif adalah tantangan baru pendidikan matematika untuk semua. Reformasi menuju pendidikan matematika inklusif memerlukan dukungan seluruh stakeholders pendidikan matematika. Tanpa hal tesebut, setiap upaya untuk mewujudkan pendidikan matematika inklusif akan sia-sia.
2. Saran
Pendidikan matematika inklusif penting diupayakan untuk mendukung terwujudnya pendidikan inklusif di Indonesia. Banyak hal telah terjadi sejak kebijakan inklusi diluncurkan, tapi baru sedikit bagian kupu-kupu tampak indahnya, kecemerlangan sesungguhnya masih harus ditunggu kemunculannya. Sudah saatnya kupu-kupu keluar kepompong, memunculkan lebih banyak kupu-kupu dan terbang ke seluruh negeri.

DAFTAR PUSTAKA
Depdiknas. 2007. Prosedur Operasi Standar Pendidikan Inklusif. Dirjen Mandikdasmen Dirbin SLB.
-------------. 2004. Pedoman Penyelenggaraan Pendidikan Terpadu/Inklusi. Jakarta: DitPLB
Ichrom, M. 2006. Indonesia Menuju Pendidikan Inklusif. EENET Asia Newsletters: Edisi Simposium April 2006. Sumber:http://www.idp-europe.org/eenet/ newsletter2_ Indonesia/page14.php, diakses 20 Agustus 2008
Mulyadi, AWEM dan Sumaryanta. 2008. Inclusive Education: A New Hope for Diversity Educational Development Approach. Paper di presentasikan pada the EWC/EWCA. International Conference, Bali Indonesia, 13-15 November 2008.
Napitupulu, E.L. 2008. Arah Baru Pendidikan. Sumber: http://cetak.kompas.com/read/ xml/2008/06/09/01145917/arah.baru.pendidikan, diakses 28-7-2008
Reynolds dan Birch. 1988. Mengenal pendidikan inklusif. http://www.ditplb.or.id/ 2006/index.php?menu=profile&pro=42, diakses pada 2 januari 2007
Smith, D.J. 2006. Inklusi Sekolah Ramah untuk Semua. Bandung:Penerbit Nuansa
Stubbs, S. 2002. Inclusive Education Where There Are Few Resources. Norwegia: The Atlas-alliance in co-operation with the Norwegian Association of the Disabled
Supranata, dkk. 2004. Penilaian portofolio, Implementasi Kurikulum 2004. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
Susetyawati, E., Pratini, H.S., & Sumaryanta. 2008. Inovasi Pembelajaran Matematika di SD Inklusi dengan Siswa Slow Learner Melalui Pengembangan Model Pembelajaran Matematika Realistik-Inklusif (MATRIKS). Laporan penelitian Universitas PGRI Yogyakarta




Kamis, Februari 04, 2010

10 Facts About Private Schools

10 Facts About Private Schools
Facts Schools Want You to Know
By Robert Kennedy, About.com Guide



Here are 10 facts about private schools which the schools want parents to know. If you are considering sending your child to private school, this data and information will answer some of the important questions.
1. Private schools educate over 6 million students.
According to the National Center for Education Statistics there were approximately 29,000 private schools in the U.S. in 2008. Together they service approximately 6.1 million students. Private schools cover just about every need and requirement you can imagine. There are special needs schools, military schools, religious schools, Montessori schools and Waldorf schools. Thousands of schools focus on high school and offer college preparatory courses. About 350 schools are residential or boarding schools.
2. Private schools offer great learning environments.
It's cool to be smart in a private school. The focus in most college preparatory schools is on getting ready for college studies. Advanced Placement courses are offered in most schools. You will also find IB programs in about 40 schools. AP and IB courses require well-qualified, experienced teachers. These curricula are demanding college level studies which allow students with high scores in the final exams to skip freshman courses in many subjects.
3. Private schools feature extracurricular activities and sports as an integral part of their programs.
Most private schools offer dozens of extracurricular activities. The visual and performing arts, clubs of all kinds, interest groups and community service are just some of the extracurricular activities you will find in private schools. Extracurricular activities complement the academic teaching which is why schools emphasize them. They are not something extra.
Sports programs combine with academic work and extracurricular activities to develop the whole child. Most private schools require their students to participate in some sport. Teachers are also required to be involved by coaching a sport. Because sports and extracurricular activities are such an integral part of a private school program, you rarely see cuts in these areas as we have seen in public schools when budgets get tight.
4. Private schools provide constant supervision and have zero tolerance policies.
One of the appealing aspects about sending your child to private school is that she cannot fall through the cracks. She will never be a number at a private school. She won't be able to hide in the back of the class. In fact, many schools use the Harkness style discussion format for classroom teaching. 15 students sitting around a table have to be involved in the discussions. Dormitories in boarding schools typically are operated family style with a faculty member being the surrogate parent. Somebody is always around keeping a watchful eye on things.
Another feature of private schools is that most have a zero tolerance policy when it comes to serious infractions of their rules and codes of conduct. Substance abuse, hazing, cheating and bullying are examples of activities which are unacceptable. The result of zero tolerance is that you can be assured that you are placing your children in a safe environment. Yes, she will still experiment but she will understand that there are serious consequences for unacceptable behavior.
5. Private schools offer generous financial aid.
Financial aid is a major expense for most schools. Even in tough economic times, schools have made assisting families who want to send their children to private school a top priority in their budgets. Several schools offer a free education if you meet certain income guidelines. Always ask the school about financial aid.
6. Private schools are diverse.
Private schools got a bad rap in the early part of the 20th century as being bastions of privilege and elitism. Diversity initiatives began to take hold in the 1980s and 1990s. Schools now proactively search for qualified candidates regardless of socioeconomic circumstances. Diversity rules in private schools.
7. Private school life mirrors family life.
Most schools organize their students into groupings or houses. These houses compete with each other for all kinds of things besides the usually sports activities. Communal meals are a feature of many schools. Teachers sit with students developing close bonds which are such a valuable feature of private school education.
8. Private school teachers are well-qualified.
Private schools value teachers who have degrees in their chosen subject. Typically 60 to 80% of private school teachers will have an advanced degree as well. Most schools require their teachers to be licensed to teach.
Most private schools have 3 semesters or terms in their academic year. Many prep schools also offer a PG or post-graduate year. Some schools also offer study programs in foreign countries like France, Italy and Spain.
9.The small size of most private schools allows plenty of personal attention.
Most college prep schools have about 300-400 students. This relatively small size allows students plenty of individual attention. Class and school size matters in education, as it is important that your child not fall through the cracks and just be a number. Small class sizes with student-to-teacher ratios of 12:1 are fairly common.
The larger schools usually include prekindergarten through 12th grade. You will find that they actually consist of 3 smaller schools. For example, they will have a lower school, a middle school and an upper school. Each of these divisions will have 300-400 students across four or five grades. Personal attention is an important part of what you are paying for.
10. Private schools are sustainable.
More and more private schools are making their campuses and programs sustainable. It has not been easy for some schools because they had older buildings which were not energy efficient. Students in some private schools even compost waste food and grow some of their own vegetables. Carbon offsets are part of sustainability efforts too. Sustainability teaches responsibility within the larger global community. That is an important lesson schools want their students to learn.



Rabu, Februari 03, 2010

PEMBELAJARAN TERINTEGRASI

PEMBELAJARAN TERINTEGRASI:
MENJADIKAN PENDIDIKAN MATEMATIKA LEBIH BERMAKNA
Oleh: Sumaryanta
Abstrak
Pembelajaran terintergasi adalah
pembelajaran yang dalam prosesnya mengintegrasikan berbagai aspek lain di luar materi bidang studi yang diajarkan secara simultan dan berkelanjutan. Pembelajaran terintegrasi selaras dengan kebijakan pendidikan saat ini, antara lain UU No. 20 Th. 2003, Permendiknas No. 22 dan 23 Th. 2006, serta standar nasional pendidikan, yang mengamanatkan pengintegrasian berbagai aspek dalam setiap pembelajaran, termasuk mata pelajaran matematika. Implementasi pembelajaran terintegrasi diharapkan merubah pendidikan matematika yang selama ini “kering” dan “miskin” menjadi lebih bermakna. Pembelajaran matematika yang hanya berorientasi penguasaan materi matematika secara an sich, perlu diarahkan pada pencapaian esensi pembelajaran yaitu keutuhan pengembangan pribadi peserta didik. Potensialitas pembelajaran matematika harus lebih digali dan diberdayakan melalui integrasi berbagai aspek, antara lain: soft skills, life skills, religiusitas, moralitas, kepribadian, dan pendidikan berwawasan lokal-global.

Kata kunci: pembelajaran terintegrasi, pendidikan matematika, bermakna

A. Pendahluan
1. Latar Belakang
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan mengembangkan potensi peserta didik menjadi manusia beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,mandiri, dan menjadi warga negara demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3 UU No 20 Tahun 2003). Hal tersebut menunjukkan betapa tinggi harapan yang disandarkan pada bidang pendidikan. Kritik terhadap kualitas SDM saat ini seakan menjadi cermin retak pendidikan yang dianggap gagal menunaikan tugas dan tanggung jawabnya.
Kebutuhan mendukung tumbuh-kembang anak secara utuh berimplikasi perlunya penyelanggaraan pendidikan holistik dan berkesinambungan. Paradigma “keutuhan” harus menjadi ruh dasar sistem dan praktek pendidikan. Berbagai dimensi tumbuh kembang anak, baik intelektual, emosional, sosialitas, maupun moralitas, harus difasilitasi agar berkembang optimal. Hanya sistem pendidikan yang mampu mengintegrasikan pengembangan berbagai aspek tersebut yang akan mampu mendorong tumbuh kembang anak secara utuh.
Permasalahan di atas menuntut solusi hati-hati dan kreatif. Tuntutan bahwa pendidikan harus mendorong tumbuh kembang anak secara utuh tidak harus disikapi latah dengan me”mata-pelajaran”kan semua aspek kehidupan. Mata pelajaran pada kurikulum saat ini telah dirasakan “sangat banyak”, sehingga perlu cara-cara baru menjawab kebutuhan tumbuh kembang anak secara utuh tanpa menambah beban belajar anak. Mata pelajaran yang ada bisa lebih diberdayakan agar memberi kontribusi lebih besar, tidak hanya pada domain masing-masing bidang studi, tetapi lebih terbuka difungsikan mendukung tumbuh kembang anak.
Mata pelajaran matematika, sebagai mata pelajaran pokok di sekolah, harus mampu menjawab tantangan di atas. Pembelajaran matematika harus lebih diberdayakan untuk mendukung pengembangan pribadi anak. Pembelajaran matematika seharusnya tidak diorientasikan sekedar materi matematika secara an sich, tetapi perlu dirubah lebih terbuka menyentuh dimensi lebih luas sehingga mampu berkontribusi lebih besar. Salah satu strategi altenatif yang penulis ingin tawarkan sebagai solusi melalui makalah ini adalah PEMBELAJARAN TERINTEGRASI. Implementasi pembelajaran terintegrasi diharapkan dapat menjadikan pendidikan matematika menjadi lebih bermakna.
2. Rumusan Masalah
Bagaimana konsep dasar pembelajaran terintegrasi serta implementasinya dalam pendidikan matematika?
3. Tujuan dan Manfaat
Tujuan makalah ini adalah:
a. Memaparkan konsep dasar pendidikan terintegrasi serta aspek-aspek yang dapat diintegrasikan dalam pendidkan matematika
b. Memaparkan strategi implementasi pembelajaran terintegrasi dalam pendidikan matematika
Manfaat makalah ini adalah:
a. Dapat mengenalkan pembelajaran terintegrasi dan aplikasinya dalam pendidikan matematika kepada praktisi dan penggiat pendidikan matematika
b. Dapat menumbuhkembangkan kesadaran dan pandangan positif praktisi dan penggiat pendidikan matematika tentang pendidikan terintegrasi serta tantangan implementasinya agar pendidikan matematika lebih bermakna.
B. Konsep Dasar Pembelajaran Matematika Terintegrasi
Terminologi pembelajaran terintegrasi sebenarnya sudah banyak dibahas dan diimplementasikan. Namun pemaknaan atas pembelajaran terintegrasi sampai saat ini masih beragam. Pemaknaan paling umum pembelajaran terintegrasi adalah pembelajaran yang mengintegrasikan berbagai disiplin dalam suatu paket pembelajaran. Berbagai aspek serumpun dibelajarkan dalam satu kesatuan sehingga diharapkan diterima dan dipahami peserta didik dalam keutuhan. Berbeda dengan konsep tersebut, pembelajaran terintegrasi disini adalah pembelajaran yang dalam prosesnya mengintegrasikan berbagai aspek lain di luar materi bidang studi yang diajarkan secara simultan dan berkelanjutan sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Dengan demikian, pembelajaran matematika terintegrasi dapat diartikan sebagai pembelajaran matematika yang dalam prosesnya tidak sekedar membelajarkan materi matematika, melainkan diperluas dengan mengasupkan berbagai aspek lain yang relevan dan diperlukan dalam mendukung pengembangan pribadi anak secara utuh.
Selama ini keberhasilan belajar matematika lebih ditekankan pada kemampuan menguasai materi dan meraih nilai tinggi. Hal ini menyebabkan pembelajaran sering terjebak pada pengajaran material matematika an sich, sehingga mengesampingkan berbagai aspek perkembangan anak. Nilai digunakan sebagai rujukan utama mempersepsikan tingkat keberhasilan. Orang tua sedih jika nilai matematika putra/putrinya rendah. Berbagai upaya dipaksakan kepada anak demi meningkatkan nilai. Anak, dengan segala ketidakberdayaan, akhirnya pasrah dan mengikuti kehendak orang tua. Di sekolah fenomena sama juga sering terjadi. Sekolah mempersepsikan keberhasilan belajar matematika berdasar nilai siswa. Untuk meningkatkan prestasi, sekolah menempuh berbagai upaya untuk semakin me-''ninggi"-kan nilai siswa.
Mata pelajaran matematika diajarkan sejak pendidikan dasar sampai pendidikan lanjut tidak lepas dari kesadaran bahwa matematika memiliki potensi besar mendukung pengembangan pribadi anak. Arti penting ini telah diterima secara nyata hampir semua pihak, bahkan matematika menempati posisi vital dalam kurikulum. Secara kuantitas, alokasi waktu pelajaran matematika setiap jenjang selalu cukup besar. Ruang yang tersedia ini tidak seharusnya cuma untuk mengejar nilai semata tetapi harus dapat lebih dimanfaatkan untuk menggali dan memberdayakan potensi pelajaran matematika dalam memberikan manfaat bagi anak. Dalam konteks inilah implementasi pembelajaran terintegrasi dalam mata pelajaran matematika menjadi relevan dan urgen.
Pada pembelajaran matematika terintegrasi, aspek yang mungkin bisa diintegrasikan sangat beragam. Berbagai aspek yang perlu untuk mendorong perkembangan anak menjadi pribadi yang utuh dapat diintegrasikan, antara lain: life skills, soft skills, religiusitas, moralitas, kepribadian, pendidikan berwawasan lokal-global, dan lain-lain (Sumaryanta, 2009). Aspek yang diintegrasikan dalam pembelajaran bergantung pandangan filosofis guru tentang pendidikan serta pemahaman terhadap potensialitas pelajaran matematika dalam mendukung pengembangan pribadi anak. Guru yang memiliki kepedulian pada pengembangan aspek life skills dapat mengasupkan pembelajaran aspek life skills selama mengajar matematika. Guru matematika yang ingin menjadikan pelajaran matematika sebagai media syiar keagamaan dapat mengintegrasikan aspek religiusitas. Begitu pula guru matematika yang memiliki ketertarikan dan kepeduliah aspek soft skills, moralitas, kepribadian, dan yang lain.

C. Aspek terintegrasi merupakan amanat pendidikan sekaligus katalisator proses pembelajaran
Permendiknas No 22 tahun 2006 tentang standar isi mengamanatkan integrasi berbagai aspek dalam peembelajaran. Pengembangan kurikulum dituntut menegakkan lima pilar belajar, yaitu: (a) belajar untuk beriman dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa, (b) belajar untuk memahami dan menghayati, (c) belajar untuk mampu melaksanakan dan berbuat secara efektif, (d) belajar untuk hidup bersama dan berguna bagi orang lain, dan (e) belajar untuk membangun dan menemukan jati diri, melalui proses pembelajaran yang aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan. Hal ini berarti keutuhan pengembangan pribadi anak adalah esensial dalam setiap pembelajaran, termasuk pada mata pelajaran matematika.
Permendiknas No. 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Kelulusan (SKL) juga menyuratkan kebutuhan implementasi pembelajaran terintegrasi. Salah satunya dapat dicermati pada SKL Kelompok Mata Pelajaran Agama dan Akhlak Mulia yang bertujuan membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia. Tujuan tersebut diharapkan dicapai melalui muatan dan/atau kegiatan agama, kewarganegaraan, kepribadian, ilmu pengetahuan dan teknologi, estetika, jasmani, olahraga, dan kesehatan. Dengan demikian, pembelajaran matematika sebagai bagian dari muatan ilmu pengetahuan dan teknologi seharusnya dapat mendukung pencapaian tujuan tersebut.
Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang standar penilaian menyatakan bahwa pada akhir semester setiap guru bidang studi harus melaporkan hasil penilaian akhlak pada guru Pendidikan Agama dan hasil penilaian kepribadian pada guru Pendidikan Kewarganegaraan sebagai informasi untuk menentukan nilai akhlak dan kepribadian siswa pada akhir semester. Kewajiban ini tentu tidak sebatas menentukan nilai, tetapi guru harus mendorong pengembangan akhlak dan kepribadian siswa. Menilai tanpa berkontribusi mengembangkannya tentu menjadi ketidakadilan bagi siswa. Implikasinya, setiap guru matematika mendapat amanat berkontribusi dalam mengembangkan aspek akhlak dan kepribadian siswa.
Pendidikan kecakapan hidup dan pendidikan berbasis keunggulan lokal dan global merupakan bagian muatan kurikulum sekolah (BSNP, 2006). Kurikulum diharapkan memasukkan pendidikan kecakapan hidup, yang mencakup kecakapan pribadi, sosial, akademik dan/atau kecakapan vokasional. Kurikulum juga diharapkan memasukkan pendidikan berbasis keunggulan lokal-global, yaitu pendidikan yang memanfaatkan keunggulan lokal dan kebutuhan daya saing global dalam aspek ekonomi, budaya, bahasa, TIK, ekologi, dll. Pendidikan kecakapan hidup dan pendidikan berbasis keunggulan lokal-global ini dapat menjadi bagian dari pendidikan semua mata pelajaran. Hal ini berarti semua mata pelajaran, termasuk matematika, perlu menyediakan ruang bagi pengembangan kedua aspek tersebut.
Pengembangan aspek terintegrasi merupakan sasaran sekaligus pendukung pembelajaran. Guru dapat mengasupkan aspek terintegrasi dalam pembelajaran kompetensi yang harus dikuasai siswa. Hal ini berarti pengembangan aspek terintegrasi merupakan sasaran yang sengaja ditargetkan dalam pembelajaran. Selama ini mungkin telah ada upaya pengembangan aspek terintergasi, tetapi sering hanya sebagai efek samping yang diharapkan tercapai. Hal ini tentu berbeda jika pengembangan aspek terintergasi tersebut dilaksanakan secara sengaja dan terencana.
Pembelajaran terintegrasi mungkin dikhawatirkan menambah beban pembelajaran. Seperti ketika seseorang telah kerepotan membawa sejumlah barang, mungkin orang bertanya bagaimana bisa masih akan ditambah barang bawaan baru. Setiap tambahan material pasti akan menambah berat beban orang tersebut. Tetapi, jika material baru tersebut berupa segelas minuman atau sepiring makanan, tentu material baru tersebut tidak akan menambah berat beban. Orang tersebut dapat menerima tambahan material baru tersebut dengan meminum atau memakannya. Minuman dan makanan tidak akan dirasakan sebagai beban tambahan, tetapi justru akan menjadi energi baru dalam membawa barang yang sebelumnya terasa berat. Seperti analogi tersebut, pengembangan aspek terintergasi tidak perlu dikhawatirkan berlebihan menjadi beban tambahan karena justru akan memberikan keuntungan terhadap pembelajaran itu sendiri. Walaupun tidak sama persis, tetapi analogi di atas dapat menjelaskan bagaimana aspek-aspek terintegrasi dapat dipahami dan ditempatkan dalam proses pembelajaran. Dengan demikian aspek terintegrasi merupakan katalisator proses pembelajaran.

D. Mengasupkan aspek terintegrasi dalam pembelajaran
1. Kemauan dan kemampuan guru
Komitmen dan kemauan guru dalam mengembangkan aspek terintegrasi dalam pembelajaran sangat penting (Sumaryanta dan Pratini, H.S., 2008). Komitmen guru akan menjadi pengarah sekaligus sumber energi dalam mewujudkan sasaran yang diinginkan. Beban mengajar serta segala kompleksitas masalahnya dapat mengesampingkan niat mengembangkan aspek terintegrasi. Tanpa kemauan kuat sangat mungkin guru akan kembali terjebak pada pembelajaran yang hanya mengejar materi dan nilai semata.
Pengembangan aspek terintegrasi juga mensyaratkan kemampuan guru. Mengasupkan aspek terintegrasi dalam pembelajaran menuntut kreativitas guru dalam mengelola kelas. Guru perlu memiliki pemahaman dan kemampuan menerapkan berbagai model, teknik, metode, pendekatan dan strategi mengajar agar dapat mengemas kelas lebih baik. Ramuan pembelajaran dengan mengoptimalkan berbagai metodologi pembelajaran tersebut sangat menentukan seberapa jauh pengembangan aspek terintegrasi dapat berhasil. Tidak ada lilin padam menerangi lingkungan, tidak pula ada orang buta menjadi penunjuk jalan. Hanya guru kompeten yang dapat mengembangkan aspek terintegrasi dalam pembelajaran.
2. Penetapan tujuan
Salah satu langkah awal penting keberhasilan pembelajaran adalah pemilihan tujuan pembelajaran (Mercer, 1989). Tujuan akan menjadi pengarah selama pembelajaran berlangsung. Oleh karena itu, pengembangan aspek terinterasi dalam pembelajaran akan terwujud jika aspek ini memang ingin dikembangkan. Guru harus mulai dengan memahami bahwa pengembangan aspek terintegrasi ini penting bagi siswa dan bisa dilaksanakan dalam pembelajaran.
Tujuan guru mengembangkan aspek terintegrasi perlu dikomunikasikan pada siswa. Kesepahaman guru dan siswa sangat penting bagi ketercapaian tujuan pembelajaran (DePorter, B., 2000). Siswa memerlukan gambaran jelas tujuan pembelajaran dan apa yang dapat mereka lakukan dan mereka peroleh. Mengetahui tujuan dan kegunaan yang dipelajari akan membawa siswa lebih aktif dan bersemangat. Oleh karena itu, jika guru memang berkehendak mengembangkan aspek terintegrasi, guru harus mengkomunikasikan tujuan tersebut sehingga siswa memiliki arah yang sejajar dengan guru selama pembelajaran berlangsung.
3. Perencanaan pembelajaran
Persiapan atau perencanaan pembelajaran merupakan salah satu aspek penting agar pembelajaran berhasil (Burden & Byrd, 1999). Keberhasilan pengembangan aspek terintegrasi sangat ditentukan ketika perencanaan pembelajaran disusun guru. Sasaran, prosedur, dan proses pembelajaran perlu diskenariokan sebaik mungkin agar pembelajaran memberikan manfaat optimal. Jika guru memang ingin mengembangkan aspek terintegrasi dalam pembelajaran, guru harus mengawalinya pada tahap ini.
Perencanaan pembelajaran matematika terintegrasi antara lain meliputi: silabus, rancangan penilaian, dan Rancangan Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pada pengembangan silabus, guru harus mampu menjabarkan kurikulum menjadi uraian pembelajaran lebih rinci dengan memperhatikan pengembangan aspek terintegrasi. Silabus akan memberi pijakan kuat bagi penyusunan rencana pembelajaran selanjutnya. Rancangan penilaian juga merupakan aspek yang penting dicermati karena pada rancangan penilaian ini guru dapat merencanakan sasaran yang akan dinilai, instrumen penilaian yang akan digunakan, serta bagaimana penilaian tersebut akan dilaksanakan. Pada tahap pembuatan rancangan penilaian, guru harus menskenariokan bagaimana umpan balik terhadap pengembangan aspek terintergasi dilakukan. Penyusunan RPP juga harus dilaksanakan guru dengan memperhatikan pengembangan aspek terinterasi. Pada saat menyusun RPP, guru harus mampu merancang pembelajaran yang mendorong dan menjamin pengembangan aspek terintegrasi siswa dilaksanakan dan memberikan hasil seperti yang diharapkan.
4. Pelaksanaan pembelajaran
Keberhasilan pembelajaran matematika terintegrasi bergantung seberapa jauh guru mampu mendorong dan memantau kemajuan belajar siswa selama pembelajaran berlangsung. Guru memegang peranan kunci pada pelaksanaan pembelajaran, tetapi tidak berarti guru harus mendominasi kelas. Perhatian dan umpan balik guru mempengaruhi berhasil atau gagal siswa berkembang pada aspek terintegrasi. Guru harus membantu siswa tetap pada jalur menuju berkembangnya aspek terintegrasi. Kesepahaman di awal bahwa tujuan pembelajaran bukan sekedar mengejar target materi dan nilai melainkan juga mengembangkan aspek terintegrasi harus tetap dijaga dan diterjemahkan melalui kerjasama guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung.
Penciptaan kondisi belajar yang kondusif bagi pengembangan aspek terintegrasi mutlak diperhatikan guru. Untuk mendorong pengembangan aspek terintergasi perlu dibangun lingkungan sosial yang positif antar anggota komunitas belajar, antar siswa, atau antara siswa dan guru. Terbinanya hubungan yang harmonis antar anggota komunitas belajar akan mendukung hasil belajar yang lebih baik (Meier, D., 1999). Pelajaran matematika yang cenderung dipersepsikan dengan beban, aktivitas sulit, membosankan, tidak ada kegembiraan, rasa tertekan, dan entah perasaan negatif apalagi, perlu diubah. Guru harus mampu mengelola pembalajaran dengan tetap menjaga minat, motivasi, dan keoptimisan siswa. Guru perlu lebih kreatif menggubah kelas lebih menggembirakan, positif, dan membangkitkan semangat siswa belajar.
5. Penilaian
Penilaian dapat mempengaruhi perilaku belajar karena siswa cenderung mengarahkan kegiatan belajarnya menuju muara penilaian yang dilakukan guru (Mercer, 1989). Penilaian juga dapat memberikan umpan balik yang konstruktif, baik bagi siswa maupun guru. Pengembangan aspek terintegrasi perlu diberikan umpan balik yang tepat dalam pembelajaran sehingga siswa terjaga dan termotivasi pada aspek ini. Umpan balik dapat diberikan melalui respon langsung dalam pembelajaran maupun melalui penilaian kuantitatif dengan berbagai instrumen yang sesuai. Dengan demikian, penilaian dalam pembelajaran matematika terintegrasi menuntut kreativitas guru dalam menentukan cara dan alat ukurnya. Tes tidak lagi bisa diandalkan menjadi satu-satunya teknik penilaian. Guru harus menggunakan berbagai teknik penilaian sesuai dengan perluasan domain penilaian.
Penilaian aspek terintegrasi tidak harus selalu menggunakan cara dan pendekatan formalistik. Guru dapat mempertimbangkan penggunaan cara dan gaya penilaian orang tua terhadap anaknya yang dilakukan secara informal, simulatan, dan berkesinambungan. Orang tua tidak menggunakan pendekatan-pendakatan formal, tetapi dengan cara yang langsung dan spontan. Faktanya, cara dan pendekatan tersebut terbukti sangat mempengaruhi cara anak bereaksi dan mengadaptasikannya dalam kehidupan. Selama ini cara dan gaya penilaian tersebut terkesampingkan karena berbagai alasan, tetapi bukti nyata efektifitasnya dalam mendukung tumbuh kembang anak perlu menjadi perhatian dan inspirasi dalam penilaian pembelajaran matematika terintergasi.

E. SIMPULAN DAN SARAN
1. Simpulan
a. Pembelajaran terintergasi adalah pembelajaran yang dalam prosesnya mengintegrasikan berbagai aspek lain di luar materi bidang studi yang diajarkan secara simultan dan berkelanjutan. Implementasi pembelajaran terintegrasi diharapkan menjadikan pendidikan matematika lebih bermakna.
b. Pembelajaran matematika terintegrasi sesuai dengan kebijakan pendidikan saat ini. UU No. 20 Th. 2003, Permendiknas No. 22 dan 23 Th. 2006, serta standar nasional pendidikan, secara nyata mengamanatkan pengintegrasian berbagai aspek dalam setiap pembelajaran, termasuk mata pelajaran matematika.
c. Aspek yang perlu dan bisa diintegrasikan dalam pembelajaran matematika sangat beragam, antara lain: soft skills, life skills, religiusitas, moralitas, kepribadian, dan pendidikan berwawasan lokal-global. Aspek-aspek tersebut dapat menjadi sasaran sekaligus katalisator proses pembelajaran.
d. Penerapan pembelajaran terintegrasi dalam pembelajaran matematika mensyaratkan komitmen dan kemampuan guru. Tanpa komitmen kuat guru akan kembali terjebak pada pembelajaran yang hanya mengejar materi dan nilai semata. Keberhasilan mengasupkan aspek terintegrasi diawali dengan menjadikannya sebagai sasaran pembelajaran, kemudian diskenariokan rancangan pembelajaran, serta dilaksanakan secara simultan dan berkelanjutan selama pembelajaran.


2. Saran
Pembelajaran matematika seharusnya tidak hanya berorientasi materi, tetapi perlu diarahkan untuk mendukung tumbuh kembang anak secara utuh. Ruang longgar yang tersedia harus lebih dimanfaatkan untuk menggali dan memberdayakan segenap potensi pembelajaran matematika dalam memberikan manfaat bagi anak. Pembelajaran terintegrasi dapat menjadi alternatif guru matematika mengelola pembelajaran agar potensialitas pembelajaran matematika dapat lebih digali dan diberdayakan untuk sebesar-besarnya manfaat bagi pengembangan pribadi anak.

DAFTAR PUSTAKA
Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). 2006. Panduan Penyusunan KTSP
Burden & Dyrd. 1999. Effective teaching. United States : A Viacom Company
DePorter, B. dkk. 2000. Quantum teaching: Mempraktikkan quantum learning di ruang-ruang kelas. Bandung: Kaifa
Meier, D. 1999. The accelerated learning handbook : panduan kreatif dan efektff merancang program pendidikan dan peatihan. Bandung : Kaifa
Mercer. 1989. Teaching students with learning problems. United States: Merrill Publishing Company
Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilaian
Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi
Permendiknas Nomor 23 Tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Sumaryanta & Pratini, H.S. 2008. Reorientasi Pendidikan Melalui Pengembangan Soft-Skillss Dalam Pembelajaran. Makalah disampaikan pada Seminar Sehari dalam Rangka Lustrum Ke V SMA Negeri 7 Yogyakarta pada tanggal 22 Juni 2008
Sumaryanta. 2006. Pengembangan Soft Skills, Hak Anak yang Harus Dibayarkan. Makalah disampaikan pada Seminar Nasional Pendidikan Matematika, diselenggarakan oleh Prodi Pendidikan Matematika FMIPA Universitas Negeri Yogyakarta pada 26 Maret 2006



Soal Latihan UN 2010

Silahkan download disini, semogabermanfaat.